Sunday, May 29, 2016

Daun Jatuh.

 Megatruh: Apa-apaan ini Kin?

 Kinanthi: Apanya yang apa-apaan Meg?

 M: Puisimu ini?

 K: Kamu baca puisiku? Wow, horee..., aku punya tambahan penggemar

 M: Puisinya bagus...

 
 K: ...dari nol penggemar menjadi satu pengemar...

 M: ...tapi tak logis.

 K: ...dan semua penggemarku, yang cuma satu itu, bilang bagus.

 M: Yeah, tapi gak logis.

 K: Gakpapa, yang penting ada bagus-nya.

 M: Masak disini kamu tulis Daun jatuh tak membenci angin.  Lha jelas daun yang jatuh gara-gara angin itu kan daun tua yang kering, tentu saja pasrah saja dia tertiup angin.

 K: Puisi kan gak perlu logis to Meg.

 M: Ini bukan puisi penambah semangat.

 K: Memang bukan. Puisiku yang ini tentang pasrah setelah berusaha.

 M: Lha kalau gambarannya daun jatuh karena angin, berarti pasrah sampai tua dong.

 K: Eh, iya juga.

 M: Harusnya bikin yang menambah semangat atau tahan banting atau bertahan semacam Daun yang kuat takkan jatuh sekalipun badai.

 K: Wah, trims Meg, ide bagus buat bahan puisi baruku

 M: ...