Friday, March 18, 2016

The Sacred Nine of *nix



 Linux pertama saya, sekaligus perkenalan awal saya dengan dunia UNIX, adalah Linux Mandrake 9, dengan kode Bamboo. Mandrake Bamboo cukup cepat di  desktop AMD Duron rakitan saya. Jauh lebih cepat dari Win XP. 

 Segunung  aplikasi pre-installed di Mandrake Bamboo membuat saya jatuh hati dengan Linux dan berniat untuk suatu saat nanti terjun sepenuhnya ke dunia UNIX. Sebuah komitmen aneh di tahun 2003, di Indonesia yang infrastrukturnya didominasi oleh Microsoft Windows. 

Kenapa? Karena game-nya banyak, :)
(Pernyataan yang aneh juga, game yang bagus saat itu kebanyakan ada di Windows)
Uh, oh, ok, karena ada game bernama Enigma. Otak saya secara fisik, psikis dan spiritual langsung menyukainya. (Di tulisan lain)

Saat itu Linux juga sangat mudah dikustomisasi.

Skripsi pake Linux? Tidak, saat itu Open Office belum bisa diandalkan (menurut saya). Juga karena saya bekerja dengan Macromedia Flash yang tidak ada versi Linux-nya.

Lha kenapa ngotot nginstal, belajar Linux? Yeah, karena masih idealis, dan orang idealis (dengan tambahan keras kepala) susah dibelokkan. :)

Saya mendapatkan Mandrake Bamboo dari suplemen majalah InfoLINUX. Dan hanya satu CD. Mandrake 9.1, Bamboo memerlukan tiga CD-ROM untuk paket lengkapnya. Toh hanya dengan CD pertama saja saya sudah punya sistem desktop lengkap, KDE, dengan OpenOffice, XmmS dan Xine. 

Tentu saja saya penasaran dengan isi CD kedua dan ketiga karena bagi saya desktop saya sudah lengkap dengan satu CD saja. Tentu saja pembanding saya adalah WinXP, yang memerlukan satu CD untuk instalasi, satu CD untuk office, dan berbagai CD untuk berbagai aplikasi (di Bamboo, semua itu termuat dalam satu CD saja).

Bukankah ada di internet? Yeah, saat itu adalah era baru internet di indonesia, kecepatan maksimal sebuah warnet adalah 128kbps yang di-share dengan 60 pengguna lainnya.

Download 1 CD membutuhkan waktu semalaman.

Solusi teratasi saat ada teman yang bilang bahwa ada linux di salah satu persewaan software bajakan (ironis, :) )

Segera saya hunting ke sana. Ada memang, senang dan gugup.

Senang karena akhirnya bisa mendapatkan copy linux.

Gugup karena yang ada hanya Mandrake versi 10. Apa-apaan ini? Tiap tahun ada versi baru? 

Karena tak ada pilihan, dan saat itu RedHat begitu menakutkan, maka saya menginstall Mandrake 10 di desktop saya. 4 CD dengan opsi penuh. Saya harus bolak-balik memasukkan CD dengan urutan sesuai yang diminta ;tidak urut 1,2,3,4 tetapi sangat acak dan tidak cuma empat kali, 1,2,4,2,3,2..., belakangan saya tahu hal itu karena dependensi sebuah software di satu CD berada di CD yang lain. Pengalaman barubagi saya.

Dan Mandrake 10 terlalu "biasa" bagi saya. Tidak menarik lagi. 

Saat itu saya mulai berlangganan InfoLINUX. Di suatu edisi majalah itu menyebut beberapa distro besar; Redhat, Debian, Mandrake, Slackware dan SuSE. Otak saya langsung klik dengan nama yang terakhir. Mungkin juga karena InfoLINUX menulis bahwa SuSE adalah semacam distro yang banyak digunakan sebagai desktop pengganti Windows di eropa, sedangkan keempat distro lain banyak digunakan di server. Server adalah kata yang asing dan menakutkan bagi saya saat itu.

Dan InfoLINUX memberi bonus CD keping pertama SuSE 9.1, berlogo kadal, warna hijau, dan saya langsung jatuh cinta pada si Gecko ini (sampai sekarang, :) )

Di keping pertama ini sudah tersedia sistem operasi GUI dengan desktop KDE dan Office Suite lengkap.

Tentu saja saya penasaran dengan versi lengkap SuSE ini.

Ke persewaan software dan ada, SuSE 9.1, lima keping CD, horee...

Distro ini super lengkap, lebih lengkap dari Mandrake.

Di titik ini saya menginstal berbagai distro di komputer desktop saya dengan model multiple booting. Hal yang lumayan menantang karena saat itu hanya SuSE yang menggunakan grub bootloader sedangkan hampir semua distro lain menggunakan lilo.

Saat itu konfigurasi yang saya pakai adalah

SuSE (default)
Windows XP
Distro lain

Saya menggunakan SuSE hampir di semua hal, mengetik, mengedit gambar dengan GIMP, mendengar lagu lewat XmmS, menikmati video dengan Xine atau mPlayer. Merekam lagu dengan Hydrogen dan ... (lupa, software untuk membuat loop drum)

Hampir semua hal, kecuali mengetik skripsi di Ms Word dan mengembangkan software di Macromedia Flash.

Distro lain untuk apa? Coba-coba tentu saja. SuSE sudah sangat stabil dan mapan bagi saya. Sayang jika mau "merusak" konfigurasi cantik yang saya bangun berminggu-minggu.

Distro lain ini sebagai lahan saya untuk mengeksplorasi linux. Saya tulis distro lain bukan berarti saya tidak mengoprek SuSE lagi. Pada satu kesempatan saya pernah menginstall SuSE berdampingan dengan yang sudah ada karena ingin "membedah" dia lenih jauh.

Dengan demikian saya bisa mengenal karakteristik berbagai distro linux yang ada saat itu. Saya juga jadi mengenal KDE, Gnome, FluxBox, WindowMaker. Saya juga tahu bahwa ada dua desktop besar dan distro-distro yang ada cenderung menggunakan salah satu desktop dan kurang mendukung desktop lain. Semacam SuSE dan Mandrake yang memiliki desktop KDE yang bagus namun Gnome yang sangat jelek dan sering eror (saat itu), di sisi lain, Ubuntu dan Fedora Core menggunakan Gnome dan KDE susah sekali diinstall di sana. Itu dulu, sekarang hampir semua distro dapat diistall KDE maupun Gnome.

Tibalah saat update SuSE ke 10, kecewa. Ternyata sangat lambat sekali. Saya pengguna KDE dan sepertinya SuSE sedang mendekat ke arah Gnome. Kembali ke Mandrake yang sudah berganti nama menjadi Mandriva. 

Dan begitu rilis berikutnya SuSE (sekarang menjadi OpenSuSE) menggunakan desktop default Gnome, meski kita bisa menginstal KDE secara manual. Saya berhenti menggunakan SuSE terbaru. Balik ke SuSE 9. Saat itu saya sudah menggunakan laptop. Laptop utama saya tetap menggunakan SuSE,  multiple boot dengan Windows dan berbagai distro muda  seperti ubuntu (sebenarnya distro lama tapi sebelum punya laptop, spesifikasi desktop saya tidak memenuhi syarat minimal), LinuxMint, PCLinux OS, bahkan ke Minix. 

Berhenti menggunakan SuSE saat memiliki MacBook, desktop OS X lumayan bagus bagi saya untuk menjadi desktop utama, bersisian dengan ubuntu dan windows.

Di ruang kerja, saya menggunakan Debian, cabang unstable dengan kode Sid (karakter nakal di Toy Story), jadi saya tidak begitu mengenal Lenny,  Sarge atau Woody, Etch. Dari dulu hingga sekarang, Sid will always be Sid, :) . Satu CPU spek rendah menggunakan ubuntu. Keduanya window manager fvwm. Nggak tahu kenapa, Linux sekarang semakin tambah berat saja.

Saat ini, dengan adanya huru-hara systemd, saya beralih ke FreeBSD dengan desktop KDE. Sangat mengejutkan, karena desktop saya jauh lebih cepat dari ketika menggunakan Linux. Hampir setara dengan OSX, mungkin karena OSX berakar dari Freebsd.

Peralihan ini bukan tanpa masalah. Saya menginstall rilis stabil terakhir 10.2, dan kartu jaringan desktop terdeteksi, mendapatkan IP secara dhcp, namun ketika terjadi aliran data, kartu jaringan langsung macet. Mencari bantuan di berbagai komunitas, ada proses panjang  patch yang harus dilakukan. Malas. Mencoba rilis lama yang benar-benar stabil.

Akhirnya terinstall 9.3 tanpa masalah, dengan KDE, cepat dan lancar.

Well, kesan saya di dunia Linux dan UNIX, atau keluarga *nix secara keseluruhan adalah 9

SuSE 9.1
FreeBSD 9.3