Friday, March 4, 2016

Solilokui

 #Megatruh

 Sering melihat sesuatu yang bertentangan. Jadi ingat kata Pak Kas: Orang itu bicara A tapi maksudnya B, wajahnya C tapi hatinya D, tujuannya Y tapi muter muter ke Z (Kastunut, di #InteligensiEmbunPagi, #Supernova, @DeeLestari)

 Dia bukan tak mau kebaikan, dia hanya tak mau dipaksa.

 Bukannya tak mau baca tulisan tentang cara-cara masuk surga.

 Dia tidak berbincang dengan seseorang yang tiap kelakuannya dihitung dengan seberapa pahala yang akan diterimanya.

 Dia tidak suka sistem kejar setoran pahala.




 Sedapat mungkin dia tidak berada di lingkungan yang suka memposting tulisan kontroversial yang dikemas dalam bentuk petuah agama. Petuah yang hampir selalu memancing konflik.

 Dia dengan sangat memohon agar semua orang yang berhubungan dengannya memaklumi fobia dia terhadap "orang taat". Dua sahabat lamanya tergolong tipe seperti itu dan beristri banyak. Dia tak mempermasalahkan itu, seandainya temannya tidak mentelantarkan istri-istrinya.

 Bukannya dia tidak mau "ndhobel", namun dia sudah membayangkan betapa pusingnya menghidupi anggota keluarga sebanyak itu. Dan dia masih single.

 Dia juga menjauhi atau setidaknya menghindari dari bertemu dengan seorang wanita yang suka memposting kewajiban suami di facebook. Sepertinya justru wanita itu yang tak melakukan kewajiban dengan baik. Dia juga berpikir bahwa postingan itu merupakan cara yang ampuh untuk memulai pertengkaran rumah tangga.

 Juga wanita yang suka memposting semacam "10 ciri suami idaman". Dia berpikir, tentu saja ada suami seperti itu, dan kemungkinan besar tak akan menikahi tukang posting hal-hal aneh seperti itu. Dia juga berpikir bahwa posting semacam itu justru mengintimidasi pacar/suami si wanita.

 Atau teman lama yang jadi ibu rumah tangga full time. Yang saking nganggurnya, kerjaannya memposting status menyindir suami yang gak pulang-pulang.

 Dia melihat tipe-tipe tersebut seringkali melupakan kewajiban dirinya dan sibuk mengurusi orang lain.

 Di ekstrim lain, dia menilai orang dengan tipe-tipe tersebut sibuk menghitung pahala diri sendiri yang diharapkan dapat digunakan sebagai tiket untuk ke surga kelas VVIP.

 Apakah Megatruh tak ingin ke surga? Well, dia tidak keberatan masuk surga.

 Kenapa tidak berlomba-lomba mencari pahala?

 Ah, tentang itu dia berpegang pada sebuah janji. Janji yang mengatakan bahwa cukup dengan keyakinan, hanya dengan percaya sampai akhir, maka seseorang akan dijamin masuk surga.

 Eh, janji itu akan ditepati kan?

 (matikutu)

 Dia merasa cukup di surga paling bawah. Bahkan dia merasa, saat ini dia sudah menikmati hidup tanpa perlu serakah menumpuk pahala dengan berbagai cara. Jika dia mendapat surga seperti kehidupan dia saat ini, tanpa ditambah apapun, dia sudah cukup senang.

 Bukankah bersyukur itu juga sebuah kenikmatan?

 Ok, tapi jika kamu seperti sekarang ini, kamu akan dilempar ke neraka dulu jutaan tahun sebelum akhirnya dimasukkan ke surga.

 Tentang itu dia juga sudah punya jawaban: bukankah surga, dengan segala kenikmatannya, baru akan benar-benar dinikmati jika kita telah mengalami segala siksa dan kesengsaraan?

 Seperti nasi tanpa lauk bagi orang yang dua hari tidak makan.