Monday, February 29, 2016

Tas Kulit



 Keluar toko.

 Tangan kiri menenteng tas plastik besar.

 Tangan kanan memegang tas ransel setengah terbuka, berusaha mengorek-korek isi tas dengan tangan kiri yang juga sedang sibuk menahan agar roti yang barusan dibeli tidak berhamburan keluar. Dia menyesal telah begitu saja menyumpalkan kunci motor ke dalam tas ketika masuk toko tadi. Akan lebih praktis jika masuk saku.

Hujan yang tadi super deras baru saja reda.

Dia menapak aspal basah menuju motor bebek agak-tua nya.



Berpapasan dengan pria berpakaian jas hitam ber-tas jinjing kulit, tersenyum ramah. Dia hanya mengangguk seadanya. Masih mengaduk tas.

"Barusan reda mas" Orang itu mengiringi.

"Inggih pak". Ah, itu dia, tangannya meyenggol benda familier, bersuara gemerincing kunci.

"Saya seharian belum makan"

"Hehehe, saya juga pak, saya biasanya makan pagi sama malam. Siang gak pernah." Walah, kuncinya masuk lebih dalam di sela-sela headset dan ipod yang entah tahun berapa dia terakhir kali memakainya.

"Saya lapar"

"Nggih, saya juga. Tadi gak sempat sarapan, berangkat ngajar-nya kesiangan". Menarik keluar kunci. Dan berbonus benda merah kusut pipih panjang. Seperti spagetti dengan saus merah entah apa. Uh, ngapain pakai acara tersangkut kabel headset segala. 

"Bisa minta uang Dik?"

Akhirnya sampai juga ke motor,  punya istrinya yang dibeli sepuluh tahun lalu. Mengaitkan tas plastik besar ke kait depan tidak mudah. Akhirnya dia putuskan untuk dipangku saja, tapi nanti pasti agak kikuk ketika motor jalan.

"Kalo lapar, saya tadi beli roti pak. Buat ulang tahun istri. Bukan yang besar, saya tadi beli yang kecil juga, empat buah. Saya buka jatah saya ya, kita bagi dua, saya juga lapar "

"Gak suka roti mas" 

Panggilannya sudah berubah.

"Oh, mari makan ke rumah saja ya. Istri saya masakannya enak lho. Sekalian njenengan bawakan tas plastik roti ini, saya kesulitan bawa"

"Wah, gak usah mas"

"Oh, ya sudah" mengambil uang dua ribu tuk tuk bayar parkir. Hampir saja plastik rotinya terjatuh,

"Uang saja mas"

"Maaf, apa pak?"  Memandang aneh karena si bapak tak mau membantu. Bukannya ingin dibantu sih.

"Saya minta sodaqoh pak" panggilannya berubah lagi

"Apa itu pak". Kunci kontak motor akhirnya terpegang juga, sebuah prestasi yang patut diacungi jempol karena isi tas tidak berhamburan keluar. Eits, gak usah mengacungkan jempol, nanti rotinya jatuh.

"Saya minta sumbangan"

"Sebentar pak" sulit juga ngobrol sambil membetulkan letak kotak kue dengan jari-jari tangan kanan menjepit lembaran dua ribuan. Akhirnya dia gantung saja di setang sepeda sebelah kiri.

"Sumbangan apa pak?"

"Ya sumbangan uang mas" hm, panggilan si bapak ini tidak konsisten. Tetapi kalo dipikir, pakaian si bapak juga tidak konsisten dengan "pekerjaannya"

Dia memandang jas yang dikenakan, juga tas jinjing kulit yang sudah pasti jauh lebih mahal dari tas ransel ber-resleting-semi-jebol yang dia pakai. Spontan lihat sepatu, nah itu dia, juga kulit. Secara penampilan dia kalah jauh, karena kemana-mana dia pake sepatu jogging, bahkan saat mengajar dengan atasan batik.

"Ini pak" dia serahkan uang dua ribu yang sedianya buat parkir.

Si bapak setelah menerima langsung ngeloyor pergi. 

Ambil dua ribuan lagi deh. Ngobrak-abrik isi tas. Kali ini cari recehan, mungkin ada koin lima ratusan empat buah.

Ada.

Sepanjang jalan dia merenung. Dengan kue ultah yang dia putuskan untuk ditenteng sambil melajukan motor pelan-pelan dengan satu tangan.

Bagaimana jika bapak itu punya anak?

Bagaimana jika dia "bekerja" seperti itu untuk menyekolahkan anaknya

Bagaimana jika anaknya tak tahu kalo bapaknya dinas di emperan sebuah toko roti

Dia bahkan tak tahu kalo penghasilan bapak itu halal. Karena beda dengan tukang parkir, meski sama-sama mendapatkan dua ribu, tukang parkir memiliki deskripsi kerja yang jelas.

Tapi dia tahu satu hal

Dia gak mau nanti anaknya malu karena bapaknya "bekerja" sebagai peminta-minta di jalan.


#Megatruh