Thursday, January 28, 2016

Budaya


 Pagi.

 Alfa, Beta dan ibuknya sudah berangkat.

 Kututup semua pintu depan.

 Naik ke loteng.

 Nyalakan macbook. Hari ini ingin belajar pattern drum jazz-bossa atau swing tapi yang open handed, koordinasi kaki-tangan-ku masih kacau untuk genre ini.

 Kucari lagu-lagu Laura Fygi.

 Nemu yang lumayan cocok, All of Me.

 Putar.

 Loncat ke kursi drum, selagi masih intro bass.

 Suara alto Laura mulai masuk.

 Siap-siap, stik di tangan, drum akan masuk  dalam tiga, dua , satu, ...

 "dung, blang gen tak tung dung, blang gentak tung dung ..."

 ....

 Suara campursari model koplo masuk ke telinga dengan kekuatan seperti tetangga yang punya hajat nikahkan putrinya.

 Eh, tunggu...

 Memang ada tetangga yang nikahkan putrinya. Dan itu hari ini, walah.



 #####

 Telentang di karpet,.

 Stik drum tersisa satu, entah di mana pasangannya.

 Teriakan Laura Fygi yang biasanya bergema di kamar atas kalah dengan "Lingsir Wengi" yang dilanjut dengan "Burung dalam sangkar" nya Panbers yang dilanjut dengan "Manusia Biasa" Radja. Entah bagaimana si juru sound bisa memiliki playlist ajaib macam itu.

 Tentu saja speaker mungil 3 Watt di kamarku tak bakal bisa mengimbangi tumpukan cabinet 5000Watt yang volumenya di-set maksimal.

 Mandi aja. Mengistirahatkan telinga di kampus.

 Lah, pas di kamar mandi, suara sound system tetangga lambat laun dikecilkan dan akhirnya mati, weleh.

 OK, gakpapa. Teruskan mandinya.

 Selesai mandi. Nyalakan lagi Laura Fygi. Stik satunya ternyata menggelinding ke bawah sofa, tak masalah, vokal masuk, dan drum masuk dalam tiga, dua, satu...

 Dok dok dok, kulonuwun.

 :(

 Tetangga memintaku datang ke rumahnya, kenduri. Standart rutin acara pengantin di sini.

 Rupanya itu yang bikin suara musik berhenti.

 Gak bisa pura-pura tidak ada di rumah, sepeda motorku kuletakkan di luar.

 Gagal nge-drum lagi.

 Untung sudah mandi, cuma perlu pakai celana yang "pantas", tak sampai semenit aku sudah di rumah tetangga. Terlambat beberapa detik, kudengar tetangga lain yang diundang sedang menjawab salam dari pemimpin doa.

 Hiburanku pagi ini adalah, doanya dilantunkan dalam bahasa jawa kuno, bahasa yang familier bagiku, dan sudah lama tak kudengar, sejak lulus SMU.

 Dan doa itu lama sekali, sangat menyenangkan, aku tahu artinya hampir keseluruhan sedangkan tetangga lain memiliki tatapan kosong dan mengucapkan "nggih", pengganti "amin", dalam timing yang kurang tepat. :)

 Memang, aku tahu bahasa jawa klasik, tetapi aku tidak bisa membungkus nasi golong kenduri. Dari dulu selalu dibungkuskan orang.

 Lha sekarang ini, semua celingak-celinguk, karena gak ada yang tahu caranya.

 Akhirnya, dengan sedikit improvisasi, jadilah ini, :)