Monday, January 25, 2016

Akhir

Tarik napas....

Satu.

Dua.

Tiga.

Keluarkan...

###




Nun di atas sana, di dimensi yang hanya terlihatt  sang Mata, Ishtar sang Dewi kesuburan tersenyum. Dia telah melakukan tugasnya, membawa cinta ke mereka, dan perang. Gio dan Diva di sampingnya

Seperti mata uang. Tak laku jika cuma ada satu sisi.

Seperti Gio dan Diva. Jika satu lenyap, satunya akan mencari hingga pelosok rimba terdalam.

Cinta dan perang, terlihat bertentangan.

Keduanya adalah Ishtar.

###

Hening.

Bahkan Alfa pun terlelap.

Hanya Bodhi yang  terjaga, menatap damai ketiga teman gugusnya.

###

"Cuma gitu doang?" Dimas protes, berusaha merebut wireless keyboard dari pangkuan Reuben.

"Gak boleh, aku ingin endingnya kayak gitu, elegan..."

"Elegan apaan, tuh super menggantung. Sudah capek-capek membangun plot dan banyak twister, cuma diakhiri dengan keheningan, gak bisa..."

"Kan karakter Bodhi juga khas gitu, diakhiri dengan pesta? Malah gak banget, Bodhi gak punya tempat"

"Halah, kamu memang naksir Bodhi dari dulu, padahal itu ciptaanku kan"

"Jangan mengalihkan topik, endingnya harusnya..."

###
Sudah banyak kertas tempelan tercoret.

Dinding yang setahun ini penuh dengan kertas plot lambat laun mulai bersih, sudah pindah ke MacBook.

Satu kertas belum terlepas, bahkan belum ada tulisannya. Cuma kata #Ending tanpa isi.

Dewi Lestari, si empunya kertas, sedang sibuk bikin roti.