Thursday, November 26, 2015

Miss Lay.

 Baca komen seperti  "Permainan gitar Eross pecah banget...." di Youtube, hati langsung panas.

 Berani-beraninya menghina sang maestro, sana, ke comberan sana, tempat asalmu, ...

 Eh, tunggu...

 Itu bukan hinaan, itu pujian...

 Pecah? Pujian?

 Yeah, beberapa dari kita sering menggunakan kata tak pada tempatnya, :)

 Penggunaan kata 'pecah' sebagai pujian datang dari Maia Estianty saat menjadi juri The Remix.

 Tentu saja penggunaan kata 'pecah' di dunia DJ atau remix sangat cocok; merujuk pada sunyi yang lambat laun menjadi semakin ramai seiring dengan penumpukan nada-nada sampling yang makin banyak, tempo yang makin cepat dan diakhiri dengan sebuah hentakan..., pecah..., 

 OK, itu pujian, bagaimana kalo kata 'pecah' digunakan di permainan gitar. Yeah, kami menganggap kata pecah sebagai kata berkonotasi buruk; merujuk pada suara gitar yang seharusnya clean namun karena setting yang buruk jadi terdengar 'brebet' atau 'pecah'.

 Bukannya efek gitar Telecaster-nya Eross mempunya karakter pecah?  Ehm, EDrive-nya Eross, seperti namanya, 'drive', hanya bertugas sebagai booster saat permainan lead, bahkan kalo kita lihat di penampilan live, Eross jarang sekali menggunakan stompbox, dia memainkan knob volume untuk efek crunch atau crisp. Jika  ingin suara clean, dia mengecilkan volume gitarnya.

 Suara Telecaster Eross 'pecah'? Well, lebih baik pakai kata crunchy, crispy, ..., lebih diterima oleh banyak gitaris, :)