Friday, August 14, 2015

Evolusi Jari

 Saya termasuk terlambat mengenal gitar, akhir kelas satu smp, naik ke kelas dua.

 Dari uang saku dari sunat, jadilah satu gitar akustik merek 'lain', :). Belum bisa beli semacam Yamaha atau Osmond atau entah apa merek terkenal lain.

 Tentu saja sekalian buku "cara cepat bermain gitar" dan buku "mudah bermain gitar".

 Buku yang membuat kecewa.

 Tentu saja setelah beli gitar saya pengin segera gitaran sambil nyanyi lagu-lagu keren sambil nogkrong di teras rumah, dan berharap dua buah buku gitar bisa membantu.

 Sejak kecil saya terbantu oleh buku, saya telah hafal isi tiap buku di perpustakaan SD, kecil sih.
 Perpustakaan SMP sudah terjelajahi di caturwulan kedua kelas satu.



 Tapi dua buku ini tidak mengajari saya nggitar sambil nyanyi. (Harusnya buku Pintar Gitar membuat pembacanya bisa bermain gitar. Harusnya... )

 Buku ini memperkenalkan nama bagian-bagian gitar, memang penting, tapi tidak bagiku.

 Buku ini mengajari langkah-langkah "menyetem" gitar, tunggu dulu, oh, ternyata namanya "menyetem", bukannya "menyetel", hehehe...; tetap saja meski gitar sudah tidak fals, tetap saja tidak bisa nyanyi.

 Tiga perempat bagian buku berikutnya berisi kunci-kunci gitar, what the...

 Ok, kusimpulkan sendiri, untuk nyanyi perlu nada, untuk iringan perlu akkord,  kunci gitar termasuk dalam akkord. Yup, terjunlah saya.

 Hafal kunci dari C hingga B, mayor, minor, diminished, maupun tujuh (7 maupun maj7) beserta aneka alternatif bentuknya, nun jauh di dekat putaran senar sana hingga tinggi mencekik leher gitar. Bahkan bapak yang tidak ngerti musik menyarankan bentuk penjariaan yang sama sekali lain dari yang diajarkan di buku. Penjarian a la bapak, yang kupakai hingga sekarang, lebih praktis dan cepat pindah dari sebuah akord keriting ke akkord keriting lain, :)

 Sekarang sudah lancar kunci, sekarang apa? Kenapa tetap tidak bisa nyanyi?

 Tunggu, tak adakah contoh lagu beserta kunci di buku gitar? Ada tentu saja, tapi tidak masuk akal bagi saya saat itu. Lagu Bengawan Solo dengan kunci Cmaj7 dan G7 terasa fals. Ada lagu entah apa dengan kunci yang enak tanpa 7 tapi masalahnya adalah saya tak tahu lagunya itu bagaimana.

 Bagi saya, kelemahan dua buku gitar itu adalah: memiliki daftar lengkap kunci tanpa menunjukkan cara pemakaian kunci-kunci tersebut dalam konteks lagu.

(Kelemahan ini, bagi saya "terhapus" di buku seri Its Easy to Bluff dari Joe Bennet, semua serinya, Jazz, Blues, Metal, Rock, memiliki kunci yang khas dan masing-masing bentuk disertai dengan penerapannya pada lagu, ide me/odi dan "sikap tubuh yang keren" saat memainkan kunci tersebut)

 Kelemahan lain adalah tidak disertai ide harmoni untuk melodi. Agak susah untuk menjelaskan, semacam jika kuncinya ini, melodinya harus jatuh di nada ini, atau ini, atau jika ingin ngejazz, jatuhkan di sini, atau tambahkan sedikit disonansi sebelum masuk ketukan berikutnya, ... .

( Saya juga baru tahu beberapa tahun setelah itu, saat menemukan buku kuno tahun 80-an berjudul Gitar Tunggal. Buku yang menjelaskan akkord parsial, bahwa kunci bisa disiratkan dengan dua nda saja, atau satu nada jika sudah ada pemain bass. Juga menjelaskan tentang melodi dengan nada lebih dari satu secara bersamaan. )

 Solusi datang tak terduga. Salah satu band junior di ekstrakurikuler musik di SMP membutuhkan gitaris baru, yang bisa memainkan kunci gitar. Tentu saja karena syaratnya bisa memainkan kunci gitar (bukan nyanyi), dari serombongan yang daftar, saya terpilih.

 Dan gitarku mulai bernyanyi, gitar rhythm, :)

 Masalah baru, bagaimana agar bisa menyanyi dengan gitar akustik?

 Jawaban muncul dalam bentuk gitaris melodi di band baruku. Toni, (mungkin sekarang sudah jadi guru di Donomulyo Malang, atau di daerah Malang Selatan dekat-dekat situ), datang dengan dua lembar kertas berisi lagu Haleluya dan Ku tak Pandang, entah judul  aslinya apa, kami menyebut dua lagu itu dengan nama demikian.

 Dari dua lagu tersebut berkembang ke lagu-lagu Iwan Fals, Toni terpengaruh kakak-kakaknya yang fanatik sama Iwan Fals, mungkin malah anggota OI. Tanpa sadar gitarku mulai bersuara merdu dan "bisa didengarkan", :)

 Tambah lagi seseorang bernama Lilik, (sekarang di daerah Laju Ngantang, :) ), dengan lagu-lagu malaysia, lagu-lagu semacam 'Mungkinkah' dari Stinky dan lagu-lagu "anak muda" saat itu.

 Sementara di malam hari, jam 10, saya berkutat dengan "tembang kenangan" di salah satu gelombang radio, mengasah feel dan pendengaran, mencari kunci-kunci untuk lagu semacam koes plus, panbers, the mercys, lagu-lagu semacam "kasih", "mawar berduri"

 Kunci? Oh iya, dari bejibun kunci yang kukuasai, hanya kunci mayor dan minor dasar yang terpakai. Sesekali kunci C7 dipakai sesaat untuk masuk ke kunci F.

 Dan SMPku berlalu dengan gitar yang sudah bisa bernyanyi.

 Gitarku saat SMU diisi dengan lebih banyak tembang-tembang kenangan di radio jam 10 malam karena lagu "anak muda" tidak begitu banyak yang baru saat itu.

 Membentuk band sisa-sisa band masa SMP yang masuk SMU yang sama, plus tambahan drummer dari teman baru saat SMU.

 Babon Band memiliki sisi ganda, dengan vokalis perempuan membawakan lagu-lagu yang sedang populer saat itu. Bersama vokalis laki-laki membawakan lagu-lagu rock, yang tidak harus lagu yang sedang populer saat itu.

 Lagu-lagu dari band semacam Boomerang, Jamrud, Guns n Roses, Power Metal ternyata lumayan mudah jika sudah tahu caranya. Kuncinya hanya PowerChord, cuma dua nada, tak perlu pusing meributkan mayor atau minor. Yang jadi tantangan adalah melodi di tengah lagu, biasanya setelah reff. Melodi ini yang bisa menjadikan sebuah band mendapat julukan 'keren'; jika bisa menirukan melodi lagu rumit sesuai aslinya. Biasanya yang melibatkan "tapping" "harmonik" atau "divebomb" hampir selalu masuk kategori keren. Dan itu mudah, taping hanyalah akkord yang dibunyikan dalam satu senar, harmonik (pinched, natural, artificial) juga gampang (natural agak sulit jika kita main lagu dengan nada dasar yang beda dengan lagu aslinya). Divebomb adalah natural harmonik apapun yang ditukikkan dengan tremolo (tentu saja harus punya tremolo bar).

 Di akhir SMU ada tantangan baru, diajak masuk band keroncong. Agak rumit, karena gitar berfungsi sebagai melodi yang terus menerus sepanjang lagu. Bisa sangat bosan atau kehabisan ide, :). Sisi menariknya adalah, lagu-lagu keroncong banyak menggunakan kunci 7 di sana sini.

 Kesempatan untuk menggunakan semua kunci akhirny datang di masa kuliah. Ketika diajak masuk DoReMi, sebuah band komunitas, membawakan lagu-lagu oldies, di nikahan dan kafe-kafe, juga di acara semacam malam tahun baru atau inaugurasi kampus.

 Awal gabung langsung shock saat disodori lagu dengan kunci Cmaj7. Bahkan hampir semua lagu memiliki ending maj7.  Di lagu-lagu kLA banyak menggunakan kunci diminished seperti Bdim. Toh lama-lama terbiasa. Hampir semua kunci minor di lagu-lagu band ini menggunakan minor7; Am7, Dm7.

 Lagu-lagu rancak di Maroon 5 dimodif sehingga sebelum Am ada E7/11. Killing me softly menggunakan F/G setelah Dm7 (yang secara formal disebut kunci G7/9/11).

 Bahkan beberapa lagu band, diawali dengan kunci G7#9, kunci yang bikin sound engineer saat rekaman kalangkabut karena dikira ada sesuatu yang error atau gitar studionya gak stem. (Akhirnya mas-nya bernapas lega juga setelah memberanikan diri memastikan "Mas, memang suara awal gitarnya sengaja nyisih gini ya?" [sepertinya tak sampai hati tuk bilang "fals" :D ] )

 Dan ketika gitaran sendiri, jika dulu jari-jari otomatis membentuk kunci C, sekarang otomatis membentuk kunci Cmaj9 atau D7#9. Sekilas nampak keren, namun di situasi dimana saya sedang check sound, reaksi pertama secara umum adalah "itu gitarnya sudah stem kah? Stem dulu!",  :)

 Akhirnya,  jerih payah akrobat jari saat SMP ada gunanya juga.


 (NB: buku-buku "cepat/mahir/pintar/mudah bermain gitar" yang ada saat ini sepertinya lebih tepat kalo diberi judul "Kamus Kunci Gitar. [bonus: lagu-lagu populer beserta kuncinya]" )