Friday, May 29, 2015

Pencerahan


Kadang datang secara tak disangka.
 
Tak hanya pencerahan relijius seperti Sakti dari Sheila on 7 yang tiba-tiba 'terbangun' saat baca buku "Menjemput Sakaratul Maut ...." di bandara dan majalah Mati Suri di rumah sakit. Kini dia bernama Salman Al Jugjawy.
 
Saya mengalami pencerahan secara musikal, beberapa kali.
 
Saya termasuk telat belajar alat musik. Memiliki gitar di akhir kelas satu SMP. Awalnya belajar lagu standart Koes Plus, Iwan Fals. Dangdut populer, belajar karena ikut ekstrakurikuler band musik, manggung di tempat-tempat yang menginginkan lagu dangdut. Tembang kenangan malam-malam di radio.

Saat SMU saya "Naik tingkat". Boomerang, Jamrud, Padi, Dewa19, Sheila On 7, Slank dan musik-musik populer di radio jadi sasaran.

Lagi,di akhir SMU mengenal underground music. Pernah sampai diusir yang punya "studio" karena "gak niat", "ngrusak drum", "bikin sakit kuping", "liriknya gak bisa didengarkan", "bahasa apa itu?". Cuma lagu Derek yang easy listening, yang kedua adalah Bendera Kuning (kayak gitu easy listening? Yup, dibanding yang lain, ;) )

Sound gitar suka yang berdistorsi full, masuk akal memang. Efek gitar lebih suka semacam Metal Zone. Semakin djent djent djent semakin keren. Sangat anti dengan efek Overdrive . Tone harus se-treble mungkin. Dan sering frustrasi karena tidak dapat distorsi seperti di fantasi. Paling sulit meniru Eros, ada distorsi tapi nada individual tetap terdengar.

Dan pencerahan itu datang.

Pertama saat mendapatkan buku usang saat liburan ke rumah mbah, tigapuluh kilometer di balik gunung. Buku peninggalan bulik yang meninggal pas masih kuliah seni di kampus yang sama denganku. 

(aku ingin memiliki sense seni seperti dia, tapi, dari level keanehan, aku belum sepuluh persennya dari dia, blum berani naik motor, kaki kiri tak paki apapun, pake bakiak di kaki kanan tok, untuk menstarter pakai kaki biar gak sakit, :) )

Kuhabiskan Gitar Tunggal saat libur sebulan, baca dan praktek. Dan mendapatkan hal-hal tak terduga.

Gitar tak harus digenjreng. Bahkan pemain klasik hampir selalu menggunakan petikan not demi not.


Belajar harmoni nada yang tanpa sengaja ku bawa ke aliran musik lain, apapun yang sedang kusenangi.

Spanish scale, yang bisa dibawa ke mana-mana, yang bikin melodi gitarku bernuansa NeoKlasik seperti Yngwie atau Rhandy Rhoads.

Banyak hal lain, seperti cara membaca tablature dan disiplin ketukan, panjang not dan dinamik, tapi itu hal-hal yang tak kelihatan.


Berikutnya adalah seri It's Easy to Bluff

Pertama memiliki buku Jazz, kemudian merembet ke Blues, Metal dan terakhir Rock (dapat dari Papang, di gramedia sudah habis, dan sampai sekarang tidak ada stock baru)

Banyak hal yang mengubah secara drastis permainan gitar sama wawasan musik, namun tidak menggeser efek dari Gitar Tunggal, lebih seperti melengkapi. Gitar tunggal untuk akustik, It's Easy to Bluff untuk gitar Elektrik

Senar pertama tak harus bunyi, dan ternyata memang memetik CMaj9 tanpa senar nomor satu itu keren sekali suaranya


Tak harus bunyi sepanjang lagu, sudah sering kulakukan sejak smu, hasil didikan P Sis saat ikut ekstra kurikuler musik di SMP dan jadi bassis selama dua tahun manggung ikut beliau. P Sis sebagai gitaris melodi dan pemimpin band paling ahli memainkan dinamika musik yang bagi kami saat itu tidak menyenangkan. Temanku, gitaris rhythm sering protes, karena suara gitarnya jadi tak kedengaran, namun secara keseluruhan suara jadi sangat merata, dan menonjol pada waktunya, saat solo, atau saat coda.

Treble tak harus penuh, jazzer suka sound empuk dan hangat. Strat dan gitar lain dengan single coil pickup akan terlalu "kemrempyang" jika treble ampli disetel penuh. yaling aman, bass treble middle(kalau ada) di set diangka 12, geser maju mundur di sekitar itu

Distorsi tak harus full, jika gain atau dist diset maksimal, suara akord akan hilang, tentu saja itu tak masalah untuk permainan melodi nada tunggal. Paling aman gain atau distorsi di set di angka 7 atau bawahnya.

Tak semua fals itu tak enak. Saya menyukai akord D7#9, gabungan D7 mayor dan minor, mengandung nada D F F# A C.  Lihat, seharusnya F dan F# yang bunyi bersamaan menyebabkan disonansi, atau super fals. Tapi jika kita pakai akord ini di waktu yang tepat, efeknya akan keren sekali.

Mencegah mati gaya secara musikal. Jika diajak manggung dan tak tahu lagunya, anggap itu memakai nada dasar G, Jika lagunya ternyata menggunaka C atau D, maka masih bisa selamat. Jika lagunya menggunakan nada dasar E, maka kita secara otomatis akan terdengar nge-blues. Jika pakai nada dasar F maka kita akan terdengar seperti Steve Vai, dengan Lydian mode. Jika lagunya memakai A maka kita Seperti Joe Satriani dengan mode Dorian. Akan sial jika lagunya ternyata menggunakan G#, :) . 

Jangan paksa mainkan rhythm dengan nada yang berbunyi di lagu yang kita tidak tahu kuncinya, gunakan palm mute.


Dari buku-buku itu secara tak sengaja menemukan aplikasinya di lagu
Bertahan di sana (Shelia On 7). Contoh dissonant keren di dua nada terakhir solo-nya Eros
Persembahan dari Surga (Dewa 19). Dissonant di reff
Roman Picisan (Dewa 19). Tidak terlalu mencolok, tapi ada dissonant bagus di ref dan saat tepat sebelum hening di sela bait-bait sebelum ref

Jadilah permainan gitarku berjenis jazz-blues-bossa-rock-akustik-latin dengan sedikit harmoni klasik.

(Catatan: bukan berarti permainan gitar saya bagus :P )

[Kutulis setengah duabelas malam saat Alfa nyenyak tertidur]



Nugroho

http://aravir-rose.blogspot.com