Thursday, May 14, 2015

My Lovely Asti


 Hari ini dia sangat pengertian, menggemboskan ban belakang kiri di garasi, pagi hari, saat akan mengantar Alfa Beta dan ibuknya ke Kediri. Memang sempat ngedumel “duh, ngapain sih rodamu pake kempes segala”. Tapi bersyukur juga. Bayangkan jika dia memutuskan ntuk membocorkan roda di jalur antara Malang-Kediri, jalur yang terkenal macet saat libur. 

Jadilah paksa dia keluar garasi karena memang sempit, Alfa sempat heboh minta naik, dikira sudah mau berangkat. Saat tahu kalo si Asti pincang dia malah kegirangan “ loh, mobil merah-nya gembos ayah, …” trus lari masuk rumah tuk laporan ibuknya yang sedang mandikan Beta.

Sementara pake ban serep dulu deh, buka bagasi, keluarkan ban serep dan “Ouch…”, kena salah satu kawat yang mencuat  dar salah satu sudutnya, yeah, namanya juga ban cadangan, :)

Masalah baru, ban serepnya juga empes, walah….

Ya sudahlah, pompa dulu ke tukang ban, dekat jalan masuk perumahan, balik lagi ke TKP, keluarkan dongkrak buaya (yang jembatan sudah bengkok, tapi itu cerita tuk lain waktu), dan sepuluh menit kemudian ban serep sudah terpasang manis di kaki belakang kiri si Asti.

Dengan tangan cenat-cenut berdenyut saya mikir juga, dengan ban serrep yang kawatnya sudah pada keluar gini apa ya aman. Akhirnya ban utama yang kempis kubawa ke tambal ban dengan asumsi ben serep tidak bakal kuat ke kediri. Kalau kuat ya syukur, kalau enggak setiadaknya ban yang di bagasi ndak kempis tetapi gak diganti sekarang, belum sarapan. Dan Alfa minta mandi sama ayah.

So, setelah nyemplungkan Alfa ke bak, disabuni, bilas.sikat gigi, kasih dia dua mainan mobil hot wheel favoritya, saya ngangkut ban lagi ke tambal ban; Alfa bisa main air di bak berjam-jam sampai airnya dingin dan dia kering tanpa pakai handuk.

Sambil mengunyah roti, sampingan dari belanja sayur istri di Pak Bud, berangkatlah saya naik si ducati (ehm, bebek, suzuki smash, dulu punya sticker ducati :) )  sambil nenteng roda.

Selang tiga puluh menit memang tidak lama, tetapi jika sedang mengalami hari yang eksotis, menit atau detik bisa sangat menentukan. Seperti saya, sesampai di tukang tambal ban ternyata sudah ada truk besar yang nongkrong di situ, di bak truknya terdapat empat ban truk baru yang saat itu sedang diturunkan sama pemilik truk. Dua sudah turun; salah satunya sedang di’oprek’ oleh tukang tambal ban. Empat ban belakang truk sudah dilepas satu sudah lepas dari velgnya, sedang diganti dengan yang baru. :s

Ngantri nih,

Kuhitung waktu tuk mengganti satu roda, roda pertama tak valid karena saya datang saat di pertengahan proses penggantian dan itu memakan waktu sepuluh menit, tambah sepuluh menit lagi tuk memompa angin ke ban tapi tak usah dihitung karena saat mompa gak perlu ditunggui. Roda kedua memerlukan waktu setengah jam, waduh. Kutinggal saja.

Yeah, memang acara keberangkatan jadi molor satu jam, jalan sudah ramai, tapi untung tak terlalu macet, dan sampai Kediri dalam waktu 3 jam, tak buruk tuk sedan produksi tahun 90.

Tetapi bagi saya poin pentingnya adalah, si Asti bermasalah saat di rumah. Bisa diatasi sambil makan minum, Alfa Beta bisa main di rumah, tidak di jok mobil berjam-jam kepanasan seperti jika terjadi di jalan. 

Memang tidak menyenangkan saat Asti bermasalah seperti itu, tetapi hari ini saya bersyukur karena dia sedang baik hati.

Sedang baik hati? Yeah, dia sedang baik hati hari ini. 

Memang pernah tidak baik hati? Heheh, … Saat dia bad mood, waduh,… Saya pernah sendirian ganti master kopling bawah di hutan daerah Ngawi, malam-malam.

Pernah juga v-belt mau putus di daerah Pakem Jogja. 

….

Dia Mazda Astina tahun 90. Di rumah kami memanggilnya Si Merah, karena warnanya merah (tentu saja :) ).

Dapat dalam kondisi lumayan amburadul dengan perkabelan yang sudah tidak standar. Sisi terangnya adalah, dengan keadaan seperti itu saya bisa bebas modif dia tanpa taku merusak orisinalitasnya, toh sudah tidak orisinal semuanya, kecuali lampu popup genitnya. 

Di dunia maya dia kupanggil Asti, kependekan dari Astina BP, yeah karena dia memang Mazda Astina dan bermesin BP. Namun BP disini adalah singkatan dari Baret dan Penyok, hihihi. Di hari kedua setelah saya beli, dia mendapatkan goresan dalam di sisi kanan, sepertinya digores dengan koin oleh seseorang saat dia parkir di depan rumah dan saya tinggal ke kampus.  Tiga goresan dalam memanjang dari depan ke belakang dan dua atau tiga goresan di grill depan plus satu “tanda tangan” dengan koin. Jadilah B(aret)

Saat mencoba ganti ban, baru pertama ganti, baru punya mobil. Saya lupa, eh, memang tidak tahu bahwa roda harus diganjal dengan sesuatu. Saya hanya mengandalkan rem tangan. Dan jadilah si Asti bergerak ke samping, menghantam pagar semen dan tugu gerbang pagar depan rumah sampai roboh. Meninggalkan penyok di sisi kiri pintu depan Asti. Jadilah P(enyok).

Yang menyenangkan dari si Asti adalah mood jeleknya sepertinya memiliki kontrol, dia hanya bermasalah tentang hal-hal yang bisa saya atasi, seberat apapun. Jadi selama ini dia gak pernah mogok sampai menginap di jalan.

Juga dia seperti tahu kalo saya sedang tidak ingin dia mogok saat seperti ketika kesasar dan dipaksa menyusuri jalur pantai selatan Pacitan-Trenggalek saat mencari jalur alternatif dari Jogja ke Malang.

Pernah juga dengan niat yang sama ahirnya dipaksa menembus jalur Munjungan, Sawoo, menembus pegunungan.

Dan pada arah sebaliknya Malang-Jogja, tersesat dan terpaksa menyusuri daerah TegalGondo, jalur tepi sungai yang mengarah ke laut panti selatan Pacitan.

Belum terhitung saat mencari jalan dan terseseat di daerah Pracimantoro, juga daerah Wonogiri.

Jalur-jalur tersebut sangat sepi, kebanyakan terdiri dari hutan alami. Nah, pada saat-saat seperti ini si Asti dapat diandalkan. Yeah, walaupun saya tidak mau menempuh jalur itu lagi.