Wednesday, November 5, 2014

Dangerous Move

Pagi ini, saat berangkat ngampus, di pintu keluar Lembah Dieng ada penumpukan kendaraan karena ada yang pengendara sepeda motor menyeberang dengan cara eksotis, tidak tengok kiri-kanan.

Mungkin hal yang biasa bagi dia menyeberang seperti itu, dan dia beruntung masih hidup hingga kini. Tentu saja ada efeknya bagi kami, pengguna jalan lain. Sebuah Ayla kinclong mengerem secara mendadak dan, mungkin karena gugup atau memang baru belajar nyetir (Ayla baru :) ), mobil itu mati mendadak. Panik susah hidup dan macetlah jalan.

Nah, ada seorang bapak muda tanpa helm mengajak anaknya naik sepeda motor matic, umur sekitar satu setangah tahun, tanpa helm juga. Tentu saja terjebak kemacetan kecil itu, menyuruk mencari celah-celah sempit sehingga berakhir tepat disampingku, setengah meter lebih jauh dari tempat sebelumnya, :)




Bruak..., tiba-tiba ada MegaPro dengan pengendara kekar ber-helm full-face telat mengantisipasi sedikit kerumunan sehingga telat mengerem dan walau akhirnya bisa berhenti, roda depannya masih sempat mencium bagian belakang si matic bapak-anak itu.

Tak ada pecahan, tak ada goresan. Namun bapak si pengendara matic itu meledak, dia mengumpat-umpat pengendara Mega Pro dengan mengabsen nama beberapa hewan dan beberapa cacat mata. Very-very bad move.

Dia tak ingat anaknya.

Bagaimana misal pengendara MegaPro terpancing emosinya? Tentu si anak dalam bahaya sangat besar. Meski kemungkinan akan ada yang melerai, si anak pasti akan menyaksikan bapaknya berkelahi dengan orang lain, dan itu bukan pelajaran bagus. Sangat mungkin juga ingatan itu akan tersimpan selamanya.

Eh, tapi mungkin juga dengan sikap si bapak yang seperti itu dalam menghadapi insiden kecil, si anak mungkin sudah terbiasa melihat bapaknya mengumpat-umpat di rumah, juga bukan perilaku yang bagus  :)