Saturday, September 13, 2014

Terkungkung

Pagi datang terlalu dini 
dan malam tiba tanpa tergesa. 

Kadang yang kuinginkan hanya menunggu 
bayangan tempat ku sembunyi meninggalkanku.
Kutahu 
lebih mudah tuk lari  
daripada menatap matamu. 

Tapi ku kan tinggikan naungan ke angkasa. 

Dan disini 
dibawah bintang-bintang malam ini 
Aku berbaring. 

Dia akan perlahan bersinar
saat setelah malam terpanjang
kubangun dari terkapar 

Mimpi-mimpi berguncang
menggemakan lonceng
membuka paksa mata lelahku

dengan hujaman cahaya
semua memori mengalir bergolak 
menusuk masuk 
ke dalam kepala

Di lilin hati
Di cermin jiwa
dia berdansa

Dia berdansa
di ranjang 
melintasi malam
remang gulita
Dan terhuyung ke jendela
tuk menghempaskan tabir 
ke dinding dia bergulir

Dan terdengarlah suara merdu
Dari menara gading nan syahdu
‘“Biarkan cahaya melingkupimu" 

sudah lama
tuk merasa
namun akhirnya
dia hanya melihat

hanya melihat

hitam
putih
 
putih
hitam

hitam 
putih

Surga seharusnya lebih dari ini
Saat malaikat mengecup tuk bangunkanmu dari mimpi

Hati suci tak kan tersakiti
tapi bukan hatiku
hatiku tak kan sama lagi

Dia berdiri di jendela
bayangnya perlahan sirna

Dan terdengarlah suara merdu
Dari menara gading nan syahdu
‘“Biarkan cahaya melingkupimu” 

Kupernah tersesat
namun telah kembali

saat terdengar serpihan tajam kaca 
bergerincing di sekitarku

ku pernah hempaskan 
semangat ke jurang menganga

namun kali ini
kan kugenggam erat
kuangkat tinggi

dia bisikkan kata-kata
tuk jernihkan jiwa
sekali ku melihat
sekarang ku buta

Kutahu 
lebih mudah tuk lari  
daripada menatap matamu. 

tapi
telah kuberi semua
yang kupunya

kini tersisa
candu yang harus juga binasa

Malam ini
masih disini
terkapar tak berdaya
diselimuti cahaya


(Surrounded by Dream Theater on Images and Words)