Thursday, June 5, 2014

Kebebasan

Beberapa hari lalu gencar berita tentang penyerangan dan perusakan rumah pendeta oleh sekelompok orang; beberapa malah tetangga sendiri. Pihak penyerang merasa benar menghancurkan rumah pendeta karena itu adalah "rumah tinggal" dan bukannya "tempat peribadatan".

Beberapa mungkin membenarkan argumen kelompok penyerang.

Beberapa mungkin memahami alur pikiran kelompok penyerang namun menyayangkan tindakan main hakim sendiri kelompok tersebut.

Ada juga yang menyayangkan tindakan kelompok penyerang rumah pendeta itu, apapun alasannya.

Saya sebagai orang Malang yang beberapa tahun tinggal di Jogja sedikit banyak mengerti dengan situasi yang berbeda antara budaya "sini" dan "sana".


Ketika bulan pertama di jogja, tepat pada bulan puasa, saya merasa ada yang aneh.

Tubuh saya telah siap menerima "sesuatu" selama sebulan, namun ternyata di Jogja "sesuatu" itu tidak ada, dan jadilah saya seperti merasa sangat-sangat-sangat jauh dari rumah, meskipun memang iya,...

Lama saya mencari apa yang menyebabkan "sesuatu" tidak muncul, akhirnya ketemu juga jawabannya.

"Sesuatu" itu adalah suara-suara yang biasa saya dengar saat bulan puasa di Malang (mungkin Jawa Timur secara umum).
Seruan jam 3 pagi lewat speaker di musholla untuk bangun makan sahur.
Seruan waktu sahur telah habis.
Suara adzan lengkap tiap musholla, yang di bulan lain hanya saat maghrib dan isya
Dan saat speaker tidak digunakan untuk menyerukan hal-hal tersebut maka suaranya berganti dengan suara mengaji mp3 di speaker semua musholla dari jam 3 pagi sampai jam 12 malam.

Terlepas dari suka atau tidak, karena tidak terelakkan lagi, tubuh saya secara fisik dan mental telah siap dengan itu.

Namun saat di Jogja, semua itu tidak ada, hanya suara adzan normal, tidak ada nyanyian pujian setelah adzan, tak ada suara mengaji yang keras di speaker sampai tengah malam setelah tarwih.

Bahkan setelah bulan puasa pun, tidak ada suara mp3 mengaji di speaker setengah jam sebelum adzan subuh, tidak ada nyanyian pujian setelah adzan.

Tidak ada suara speaker tahlilan rutin seminggu beberapa kali yang diselenggarakan dari rumah ke rumah, sore dan malam.

Dan saya merasa sangat nyaman, :)

.....
nah, kembali ke peristiwa penyerangan rumah pendeta di Ngaglik Sleman Jogja.
Saya membayangkan, jika mereka, para penyerang itu pindah ke Jawa Timur,

apakah mereka akan menyerang tiap rumah yang digunakan untuk tahlilan? (seminggu beberapa kali, tahlil RT, tahlil RW, tahlil bapak-bapak, tahlil ibu-ibu, sore atau malam, pake speaker/salon bawah)

Menyerang rumah ustadz (rumah tinggal) yang digunakan sebagai tempat mengaji anak-anak dan ibu-ibu dari sore hingga malam setiap hari? (suara anak belajar ngaji biasanya disiarkan melalui speaker)

di sini, hampir semua "rumah tinggal" dapat berfungsi sebagai "tempat peribadatan", bahkan sampai luber ke jalan depan rumah, tutup jalan, dan suara speakernya terdengar jelas hingga setengah kilometer.

...bagaimana jika mereka tinggal di lingkungan seperti ini?