Friday, May 2, 2014

Logis atau Berpengalaman?

Mayday. Kemarin saya melihat berita-berita di TV. Tidak keluar rumah walau libur karena ancaman macet karena demo.

Ternyata di sini tidak terlalu parah.

Hal lain yang saya perhatikan di berita adalah jika yang demo adalah teman-teman buruh maka tuntutan utamanya adalah hal-hal semacam jaminan kesehatan, hak ibu menyusui, semacam itu.

Namun jika yang demo adalah teman-teman dari mahasiswa, maka tuntutan utamanya adalah kenaikan upah buruh, :).

Kenapa bisa berbeda?

Lebih mendalam lagi, kenapa teman-teman buruh tidak menempatkan kenaikan upah sebagai tuntutan utama?


Ini hanya pemikiran saya, belum tentu sesuai dengan kenyataan. Di sini sepertinya, menurut teman-teman mahasiswa, gaji yang tinggi merupakan hal utama dan sepertinya sangat logis. Mungkin ini adalah bias dari keadaan nyata teman-teman mahasiswa, saat ini prioritas utama bukanlah hal-hal semacam jaminan kesehatan.

Di lain pihak, meskipun sepertinya logis (menurut mahasiswa), kenapa teman-teman buruh tidak menempatkan kenaikan upah sebagai prioritas utama? Secara mengejutkan, ternyata jawaban dari pertanyaan ini bisa angat logis serta mengandung banyak variabel.

Jika mereka menuntut kenaikan upah dan memaksa perusahaan melakukan itu, maka ada beberapa hal yang akan dilakukan perusahaan:
  • Jika meyetujui, maka mereka akan menyetujui kenaikan upah sampai margin keuntungan minimal mencapai batas, jika melebihi itu maka perusahaan merugi dan tidak dapat membayar upah. Pekerja jelas tidak menginginkan itu.
  • Ada perusahaan yang menyetujui kenaikan upah, namun karena tidak memiliki pos untuk menutup itu, maka diambil dari biaya kesehatan. Berdasarkan pengalaman, membayar sendiri biaya pengobatan lebih berat daripada dibiayai oleh perusahaan. Maka pekerja lebih memilih jaminan kesehatan.
  • Ada perusahaan yang menyetujui kenaikan upah namun dengan melakukan pemberhentian sebagian karyawan untuk menutupi pos tersebut. Pekerja yang setiakawan tidak menginginkan ini.
  • Ada yang selangkah lebih maju dengan meminta kenaikan UMR atau UMP sehingga semua perusahaan di daerah tersebut harus menaikkan upahnya agar seragam. Hal yang berbahaya di sini adalah beberapa perusahaan (yang setelah melakukan perhitungan mengambil kesimpulan bahwa daerah tersebut tidak lagi menguntungkan sebagai tempat usaha) memilih untuk memindahkan usahanya ke tempat lain yang lebih menguntungkan sehingga karyawan otomatis berhenti atau harus ikut ke tempat baru (yang mungkin sangat jauh). Tentu saja ini tidak diinginkan oleh pekerja.
Dengan argumen seperti itu, maka bagi saya cukup masuk akal jika para teman buruh lebih menuntut ke arah jaminan kesehatan atau hal-hal lain yang penting bagi mereka (di luar upah) dan dari sudut pandang pengusaha tidak terlalu berat untuk dilakukan.

(hanya gumamam)