Sunday, October 20, 2013

Urine Sapi, Rumput dan Kemarau

Saat ini rumput masih menjadi makanan utama sapi perah namun keberadaan rumput yang subur dan disukai sapi mulai jarang ditemukan secara bebas sehingga kegiatan "ngarit" (jawa: mencari rumput) sudah banyak ditinggalkan bagi pemilik sapi.

Bagi pemilik sapi perah, sekarang lebih mudah membeli rumput gajah daripada mencari rumput di sawah atau hutan yang keberadaannya semakin jarang. Menanam rumput gajah sendiri juga bukan sebuah pilihan yang menarik karena harus merawatnya dengan memupuk dan mengairi; sebuah hal yang sulit sekarang di mana pupuk relatif mahal dan musim kemarau yang berkepanjangan dengan datangnya hujan yang sulit diprediksi.



Di sisi lain, kotoran sapi selama ini telah menjadi pupuk kandang dan dipakai di berbagai daerah. Pertanyaannya kenapa tidak menanam rumput gajah dengan pupuk kotoran sapi saja? Jawabannya biasanya adalah kotoran sapi tersebut dijual sehingga tidak memungkinkan (tidak boleh) untuk digunakan sebagai pupuk kandang. Selain itu, agar kotoran sapi dapat menjadi pupuk, kotoran sapi harus dibiarkan dulu (fermentasi) beberapa minggu. Penggunaan langsung kotoran sapi pada tanaman berakibat tidak baik. Hal lain dari penggunaan kotoran sapi sebagai pupuk adalah, tanaman masih membutuhkan air sehingga sulit dilakukan saat musim kemarau.

Saat ini air kencing sapi menjadi limbah yang terbuang percuma karena tidak dapat dijual dan bermasalah bagi lingkungan karena menimbulkan polusi bau karena tempat pembuangannya biasanya dijadikan satu dengan kotoran sapi; kotoran sapi tidak lekas kering dan kotoran sapi yang basah baunya sangat menyengat. Padahal jika ditelaah, air kencing sapi memiliki kandungan urea yang cukup tinggi sehingga bagus untuk tanaman, terutama untuk pertumbuhan rumput gajah.

Penggunaan air kencing sapi sebagai pupuk untuk rumput gajah (makanan utama sapi) memiliki beberapa keuntungan. Pertama adalah bebas biaya karena merupakan limbah dari sapi itu sendiri.

Keuntungan kedua adalah menyelesaikan masalah bau dari pembuangan air kencing sapi. Selama ini air kencing sapi dibuang ke tempat yang sama dengan kotoran sapi sehingga kotoran sapi tidak lekas kering. Hal ini menimbulkan bau yang menyengat dan kotoran sapi yang masih basah tidak dapat dijadikan pupuk kandang. Dengan mengalirkan air kencing sapi ke lahan penanaman rumput gajah maka secara otomatis kotoran sapi tidak tercampur dengan urine sapi dan lebih cepat kering (lebih cepat terfermentasi menjadi pupuk kandang dan dapat dijual).

Keuntungan yang ketiga adalah meyelesaikan masalah ketiadaan air saat kemarau. Dengan menggunakan air kencing sapi, selain sebagai pupuk dengan kandungan urea yang tinggi, air kencing sapi juga berfungsi untuk mengairi rumput gajah sehingga tidak mengalami kekeringan.