Friday, November 30, 2012

Supernova: Partikel; batu kokoh di aliran sungai besar fanatisme

Ini bukan spoiler. Hm, atau sebisa mungkin bukan spoiler, :)

Sesore membaca Partikel, dengan Royyan yang tidur pulas disampingku.



Setelah bagian awal yang bikin bulu kuduk meremang dan reflek tangan yang membelai Royyan dengan penuh syukur, pada sekitar pertengahan buku, aku teringat Bodhi, Elektra dan Ksatria.

Aku teringat Bodhi saat direcoki Tristan yang sedang semangat-semangatnya karena baru masuk Buddha (getsul: seseorang yang baru masuk Tibetan Buddhis) dan berencana ke Nepal.

Juga teringat Elektra saat mendengarkan percakapan Daddy 'Super Wija' dengan Watty yang mau masuk Islam.
(Kok tanya Daddy, tanya Tuhan dong? Sudah Dad. Lalu Tuhan bilang apa?)

Juga saat Ksatria bertanya apakah Adam dan Hawa menikah.

Dee, untuk kesekian kalinya, kembali menulis hal-hal yang beberapa penulis lain bahkan tak berani menyentuh atau mendekatinya. Yeah, agama memang hal yang sensitif untuk dibicarakan.

Dee, melalui Zarah, dengan tenang, tanpa pretensi bertanya hal yang sederhana pada Abah,kakeknya. Namun seperti segala pertanyaan yang berhubungan dengan keyakinan, bukan jawaban yang didapat melainkan hidung berdarah dan 'disinheritance'.

Halaman-halaman awal, agak tengah, mengingatkanku akan 'Atheis' karya Achdiat Kartadimaja dan 'The Da Vinci Code'-nya Dan Brown. Sangat tidak baik untuk tekanan darah para penganut fanatik buta (eh, semua fanatik pasti membabi buta ya). Semoga buku ini tidak dicekal atau menuai protes seperti Akar saat memajang aksara suci hindu Omkara di sampul depan (edisi berikutnya, sampul depannya jadi bolong).

Kalaupun iya, setidaknya aku punya versi asli buku ini. Lanjut baca ah,...

Eh, ngganti popoknya Royyan dulu, :)