Tuesday, April 3, 2012

Tahlil Bilingual

Beberapa hari yang lalu saya pintu kamar mandi saya digedor-gedor tetangga.

"Woi, lagi mandi ya!!!"
"Iya..." sahut bibiku yang lagi mandi

"Ups, sori,..." ganti dia gedor-gedor WC
"Woi, lagi di WC ya!!!" walah..., gimana mau jawab. Aku diam aja, mood-ku langsung hilang.

"Eh, kok diam saja? lagi di dalam WC ya?" ckckck...

"Ada apa Gus?" kataku nongol dari pintu WC
"Baru dari WC?" Busyet dah...




Aku menyerah
"Iya" sambil ngeloyor ke depan TV mau lihat Spongebob sore

"Nanti habis maghrib diundang syukuran di Pak Wari" kata Gus sambil nguntit aku. Waduh, gak bisa lihat Spongebob nih!

"Soalnya aku sakit perut" jawabku sekenanya

"eh?"

Begitulah suasana desa, ngobrol dengan seseorang yang sedang konsentrasi penuh di WC dianggap biasa. Dan pertanyaan yang terus diulang walaupun sudah tahu jawabannya. Basa-basi memang kadang merepotkan.

******

Habis maghrib aku ke rumah Pak Wari yang rumahnya melewati tritisan rumah Pakde di utara rumahku. Sudah ada beberapa orang di sana.

"Memang acara apa Pak"

"40 harinya mbah Prapti"

Aku lega tidak bertanya "Memang syukuran apa?", dasar Gus!

Biasanya, acara semacam itu diisi dengan baca Surat Yaa-Sin, sekitar setengah jam, dilanjutkan dengan bacaan tahlil, beberapa surat pendek dan beberapa potongan surat panjang dan doa-doa entah apa namanya.


Namun malam itu tidak. Pak Ja'i Mengumumkan kalau acaranya hanya diisi bacaan tahlil saja, wow, masih bisa lihat Spongebob nih. Dan bukan hanya aku yang lega, hehehe. Eh, bukan berarti semua yang diundang juga pengin cepat-cepat pulang lihat Spongebob; waktu antara maghrib dan isya' adalah waktu ngleyeh di desaku.

Tahlil berlangsung lima belas menit dan makanan pun dihidangkan. Setelah puas melahap soto, bingkisan berkat untuk dibawa pulang pun dibagikan.

Aku siap-siap menunggu Shalawat Dongkrak ketika Pak Sutomo, sesepuh Dusun mengambil mic dan...

"Salamalekum,  dinten menika kula dalah panjenengan sedaya dumugi wonten mriki minangka .... mugi pinaringan kawilujengan..."

Whaaaat???!!!

Ternyata ada semacam "Tahlilan Jawa" setelah berkat dibagikan dan lebih lama dari "Tahlil Arab". Tahlil jawa ini diucapkan dalam bahasa kawi yang isinya berupa penjelasan kenapa kami beada di sini, acara apa dan semoga tuan rumah terkabul hajatnya.

Karena diucapkan dalam bahasa jawa, maka kata "amin" yang biasa diucapkan bersama-sama diganti dengan "inggih..." (iya).

Saat pulang, aku senyum-senyum sendiri sambil terkenang-kenang jaman SMP saat aku bersusah payah menghafalkan suluk pembuka pagelaran wayang di halaman belakang Kembang Setaman.

"Swuh rep data pitana. Anenggih negari kapundi ta kang kaeka adi dasa purwa. Eka marang sawiji adi luwih dasa sepuluh purwa wiwitan. Nadyan katah titahing jawata kang kasongan ing akasa kasangga ing pratiwi kaapit ing samudra...

negara dwarawati ya dwaraka negara kang panjang punjung pasir wukir. Panjang dawa pocapane, punjung luhur kawibawane,  pasir samudra wukir gunung... gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja"

Nostalgia...