Sunday, April 8, 2012

Paku dan Papan

Di awal malam sekitar enam tahun yang lalu, aku dan Anggun sedang "ngleyeh" di kamarku di Lazy Home. Mungkin saat itu hari sabtu malam; biasanya Anggun ke rumah hari sabtu, kujemput.

Anggun mengerjakan tugas akademi kebidanannya yang segunung sedangkan aku sedang santai sambil otak-atik Fruity Loop dan Cool Edit di laptop Eeyor. Komputer Pentium 2 di ruang depan menyiarkan siaran Dhamma TV, ada semacam ceramah dari Biksu yang sudah ku kenal namun namanya tidak ku hafal.

Kami tidak perlu bersusah payah lihat TV karena toh gambarnya lebih menyerupai semut daripada gambar Kelenteng. Jika memasang antenna di belakang rumah, memang seperti itu, pilihannya adalah gambar jelek namun suara bagus, atau gambar bagus dengan suara berkeresak. Jika pasang di depan rumah pilihannya adalah gambar bagus dengan suara jernih dan resiko antenna sudah tidak ada saat pulang dari kampus, hm... mungkin itu bukan pilihan.



Diantara suara kertas dan buku yang dibolak-balik dan suara gedebak-gedebuk drum mentah hasil manipulasiku, kudengar kisah Sang Biksu tentang seorang tua dan pemuda. Aku lupa konteksnya, mungkin si pemuda ingin berguru pada sang tua, entahlah

"...seorang tua berkata pada pemuda pemarah 'Nak, cobalah hal ini saat kau marah, tancapkanlah sebuah paku pada papan di pintu depan rumahmu. Saat amarahmu telah reda cabutlah paku yang telah kau tancapkan tadi. Kembalilah padaku saat tidak ada satu paku pun di papan '

Dan begitulah, si pemuda tiap marah menancapkan paku pada papan dan mencabutnya saat amarahnya telah reda. Terkadang ada beberapa paku yang tertancap pada papan karena saat amarahnya belum reda dia kembali marah.

Saat dia telah berhasil mengendalikan amarahnya, si pemuda menemui biksu untuk menunjukkan bahwa tidak ada paku di papan pintu rumahnya.

'Baiklah, sebagai awal akan kuberi engkau sebuah pelajaran sederhana. Mari kita lihat pintu rumahmu'

'Nak, lihatlah. Engkau telah berhasil mengendalikan amarahmu, terbukti tidak ada satupun paku yang tertancap di papan ini. Namun lihatlah bekas-bekas paku yang kau tancapkan, meski paku telah kau cabut, bekasnya masih ada.

Begitulah amarah, saat engkau marah, engkau tidak dapat mengendalikan diri dan mungkin melampiaskan amarahmu ke orang-orang disekitarmu, melukai mereka; mungkin fisik, mungkin jiwa. Lambat laun amarahmu pasti akan mereda, orang-orang yang telah kau lukai mungkin juga telah memaafkanmu, namun kejadian itu telah menjadi catatan kehidupanmu, seperti lubang di papan bekas tancapan paku... '

...
"
(lupa lanjutannya)