Tuesday, April 10, 2012

Hornet

Dia masih ingat rumahnya.

Saat pertama menempati Lazy Home, dia sudah ada di depan rumahku, bernyanyi. Meski menakutkan, kuputuskan untuk tidak mengusirnya, kubiarkan dia tinggal, toh dia memang lebih dulu tinggal di sini.

Dia seekor kumbang, semacam lebah tapi besar. Ada yang menyebut "tawon endhas" (lebah kepala). Dia tinggal di kayu pelisir depan rumahku. Aku jadi harus berhati-hati saat keluar rumah atau masuk rumah karena konon sengatannya bisa sangat menyakitkan dan selalu menyerang bagian kepala. Dan tidak seperti lebah kecil yang mati setelah menyengat (sengatnya adalah tulang belakang, dan akan tertinggal di tubuh kita, jadi lebah alan mati), tawon ini bisa menyengat berkali-kali.

(saat menulis ini, dia sedang terbang mondar-mandir di clauster rumah. Saat akan kupotret mendadak dia mengejarku hingga terbirit-birit ke dapur. Eh, dia membuntuti ke dapur. Maka jadilah aku di sini. Di kamar mandi dengan pintu tertutup rapat.)

Namun kehati-hatianku terbukti tak berguna. Dia tak akan menyengat jika tak diganggu jadi kuanggap dia sebagai penjaga pintu rumahku.

Sekitar dua tahun yang lalu rumahku direnovasi. Bongkar atap sekaligus pelisir (tentu saja) yang lapuk karena rayap. Si Tawon terbang kesana-sini seakan protes tempat tonggalnya digusur, membuat keki para pekerja rumah, hihihi.

Setelah renovasi selesai ternyata si kumbang mulai membangun rumah yang baru dipelisir rumahku yang baru di titik yang sama, wow.

Bulan lalu bagian depan rumah dibongkar total, diganti dengan model cor, tanpa atap. Praktis rumah si kumbang tidak ada lagi bahkan, dengan denah rumah yang baru, rumah si kumbang berada di clauster rumahku, semacam lorong dari ruang tamu ke ruang tengah; tak ada kayu untuk dilubangi. Sebuah penggusuran paksa.

Tadi, saat lihat spongebob, kudengar nguing-nguing suaranya kembali. Dia berada di clauster rumah, weleh. Apakah dia punya semacam bioGPS ditubuhnya?