Tuesday, March 27, 2012

Preman (lagi)

Tadaa…

Masih tentang "pengemis" atau mungkin lebih tepat jika disebut preman kemanusiaan, karena jika benar-benar diperhatikan, mereka tidak masuk kategori pengemis ataupun preman meski

Pernahkah anda melihat pengemis di perempatan jalan? Bagaimana penampilannya

Jaman dulu

Kebanyakan tua
pakaian compang-camping
pake sandal jelek bahkan telanjang kaki
bawa selendang tuk tempat uang



"Pengamen" atau "pengemis" sekarang

semua umur
pakaian lusuh tetapi tetap melindungi kulit dari sengatan matahari
pakai sandal nyaman, ada yang bersepatu
memakai tas ransel, atau selendang bagi yang bawa bayi

Apa yang "dijual" oleh mereka? Kita tahu bahwa pengamen menjual suara merek lewat lagu, di bus kita bahkan sering terhibur dengan lirik-lirik lagu yang kadang mereka ciptakan sendiri. Kita juga tahu pengemis (tanpa tanda petik) menjual keadaan mereka; kemiskinan, penyakit bahkan mungkin harga diri.

Di perempatan memang ada pengamen dan dan pengemis yang sesungguhnya; anak-anak punk yang memang terjun ke jalan. Anak-anak jalanan ini benar-benar menyanyi meskipun tentu saja kita tidak bisa menikmati keseluruhan lagu seperti di bus, dan tentu saja mereka patut untuk mendapatkan imbalannya, sekeping lima ratus rupiah.

Bahkan saya pernah di panas terik dimintai "belas kasihan" oleh seorang "pengemis" kecil; dia minum jus melon sambil ngobrol seru dengan temannya yang memakai tas pinggang Eiger. Dengan keadaan demikian tentu saja saya tidak bisa berbelas kasihan, saya tidak begitu bodoh untuk

Tidak bisakah mereka menjadi pengemis yang profesional? Dengan pakaian dinas yang sesuai dan tingkah laku profesional layaknya pengemis sesungguhnya? Saya kira tidak, mereka sudah terlalu nyaman dengan rutinitas mereka meskipun saya yakin jika mereka bisa bertingkah laku secara profesional, pendapatan harian mereka bisa meningkat.

Tidak pernah ada yang tahu jalan pikiran mereka, tetapi tidak sulit untuk ditebak. Mereka turun ke perempatan-perempatan yang berlampu merah dengan pikiran optimis bahwa jika mereka meminta pasti diberi karena mereka pikir para pengendara menyangka mereka patut dikasihani; dan orang yang patut dikasihani tentu saja harus dikasih uang. Mereka mengeksploitasi rasa belas kasihan kita saat melihat pengemis. Mereka memaksa kita untuk berbelas kasihan meskipun sebenarnya dalam hati beberapa dari kita pasti bertanya “apa iya mereka ini benar-benar patut dikasihani?”.

Cara ini sedikit banyak berhasil. Ironisnya pengendara kebanyakan mengabaikan anak-anak punk yang terkadang malah benar-benar menjual suara mereka dan cenderung memberikan recehan mereka pada anak-anak kecil. Bias ini bisa dimaklumi tentu saja, lihat pakaian anak punk jalanan itu. Namun apakah belas kasihan kita telah benar pada tempatnya?

Memberi recehan pada anak kecil di perempatan mungkin melegakan kita; membantu anak yang kekurangan. Namun anak yang kita beri recehan tersebut sangat mungkin untuk tetap di situ bertahun-tahun kemudian. Mereka telah mendapatkan mata pencaharian yang gampang, mereka tidak butuh sekolah karena lebih enak di jalanan. Dengan memberi mereka recehan kita telah menghancurkan kemungkinan mereka untuk sadar akan pentingnya pendidikan.