Wednesday, December 7, 2011

Telepon

Siang itu aku berada di antara orang-orang yang bertujuan yang sama dengan aku, menunggu mendapatkan pelayanan. Syukurlah di tempat ini menganut sistem antri, jadi aku tidak perlu memasang wajah garang untuk tiap orang yang datang belakangan.



Kulihat wajah-wajah di sekitarku, rata-rata ingin segera dilayani, tentu saja. Dan kegiatan standar orang Indonesia saat menunggu adalah pegang hp, entah itu kirim sms, facebook atau sekedar diunlock trus dibiarkan sampai terkunci untuk diunlock lagi, seperti saya, :).

Seorang bapak menerima panggilan telepon, memakai jaket kulit celana kain coklat mentah dengan tas pinggang dan sandal kulit. Karena dekat, dengan jelas dapat kudengar percakapannya, dari pihak bapak itu tentu saja.

"Maaf pak, hari ini terpaksa tidak bisa. Anak saya itu sedang sakit, ini saya sedang di rumah sakit menunggu, dia tidak mau saya tinggal"

Orang-orang memandang bapak itu, yang agak serba salah.

Telepon di saku jaket bapak itu berbunyi lagi.

"Maaf pak, maaf sekali, ini saya mau ke apotik saja tidak bisa, anak saya tidak mau ditinggal, ini dia nangis"

Bapak itu semakin gelisah dan serba salah, sedangkan saya melayangkan pandangan ke antrian yang mulai saling memandang satu sama lain sambil tersenyum penuh arti melihat keadaan bapak tersebut.

Sementara antrian sedikit demi sedikit mulai menipis, bapak tersebut masih menerima beberapa kali telepon lagi. Akhirnya tiba giliran bapak tersebut. Tentu saja karena dekat saya juga ikut menyimak komplain bapak itu

"Loh, padahal sudah sejak minggu kemarin lho, kok gitu sih?"

"Memang gitu pak, kan kemarin sudah dibilang, kalo mau kesini telpon dulu"

"Gimana sih, padahal sudah jauh-jauh datang dari Pasuruan ke Malang"

"Maaf pak, nanti kami kabari kalo barangnya sudah ada. Sparepart Peugeot memang harus inden dulu ke Surabaya atau Jakarta..."


(Percakapan terjadi di sebuah toko onderdil mobil)