Friday, December 9, 2011

Tayub

Ada yang tahu tayub? Tayub merupakan kesenian daerah yang menyajikan pertunjukan campursari; lagu-lagu yang dilantunkan oleh sinden, ada beberapa ledek(penari) yang mbeso(menari tarian daerah). Para ledek tersebut menari dengan lawan tari dari para undangan yang menari secara bergiliran yang diurut berdasarkan nomor meja yang mereka duduki.

Dalam bahasa daerah saat saya SD dulu, tayub merupakan sebuah kerata-basa yaitu TAYUB = ditaTA supaya guYUB. Mungkin sesuai dengan semangat yang dibawa oleh namanya, secara teknis, pertunjukan tayub merupakan perjunjukkan yang terorganisir jika dilihat dari giliran menari para tamu, setidaknya di beberapa daerah.

Lama para tamu mbeso adalah satu lagu, setelah itu giliran mbeso tamu dari meja berikutnya dengan lagu yang mereka pilih. Di beberapa daerah, mungkin ada local genius yang melihat celah ini dan menjadi semacam hacker yang memanfaatkan exploit ini, yang justru menjadi lucu jika diterapkan secara ekstrim. Celah tersebut adalah jika lagu berganti, maka penari tamu juga harus ganti. Penggantian lagu biasanya dengan memberi sejumlah uang pada para yaga(pemusik), biasanya tukang kendang, yang langsung menghentikan gendhing(lagu) yang sedang berjalan dengan gendhing baru. Bisa dibayangkan situasinya jika tiap lima detik lagu diganti.

Celah tersebut biasanya memicu kerusuhan di beberapa pertunjukan tayub, tentu saja hal itu bisa dimengerti. Minuman keras biasanya selalu ada di tiap meja, kebanyakan mabuk digunakan sebagai pemanasan, jadi tidak malu saat menari. Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba lagu berhenti dan harus turun, hm…

Penari tamu tidak harus pria, wanita pun ada, walaupun tidak ada ledek pria.

Mungkin awalnya tayub digunakan sebagai pamer keahlian menari jaman dulu, semacam karaoke sekarang ini. Namun yang sering kulihat lebih condong ke mabuk-mabukan yang 'diper-halal' atas nama budaya.