Friday, December 9, 2011

Sepur Mesle Ngajubile


Beberapa hari yang lalu aku tiba-tiba Heri nyletuk saat sedang chatting begini (kutipan perhuruf, :) ):
"mas,,,asolole kuwi konon katanya dari kata allohuma sholi alaih, kemudian jadi sholi alaih, kemudian jadi asolole,,,hehehehe"


Di bahasa kita sehari-hari kita menjumpai bahasa-bahasa yang diambil dari bahasa lain. Kita telah begitu terbiasa sehingga seakan-akan bahasa tersebut memang bahasa kita. Banyak kata-kata serapan yang bahkan berubah fungsi semacam "beh, kopine enake jian ngadubilah" yang merupakan pujian untuk kopi yang enak.  Mungkin 'ngadubilah' berasal dari kata lain atau mamang kata asli, namun kupikir 'ngadubilah' berasal dari kata 'naudzubillah'.

Di Lupus Kecil ada penggunaan bentuk lain 'naudzubilah' yang berlawanan dengan diatas, yaitu saat rumah Lupus kebanjiran "kasur yang ditumpuk di meja makan karena kebanjiran yang baunya ngajubile"

Mesle => miss-lay. Mesle adalah bahasa jawa untuk mengungkapkan peletakkan barang yang kurang pas.

Lampu => lamp

Sepur => spoor (belanda), artinya track atau lintasan, dalam bahasa inggris berarti juga berarti jejak (bau) binatang. Kita sering lihat peringatan 'perlintasan kereta api satu sepur'. Sepur dalam bahasa jawa artinya kereta api. Walaupun arti dari peringatan 'satu sepur' (satu rel) dengan sepur (kereta api) berbeda namun bisa diambil akarnya dari spoor. Di bengkel mobil ada servis namanya 'spooring' tujuannya untuk meluruskan roda depan dan belakang agar mobil berjalan lurus.

Tentu saja ada penggunaan kata yang sebenarnya bukan serapan namun entah bagaimana kata tersebut jadi populer. Pernah saya dengar pembawa acara Tayub yang dalam pembukaan acara menggunakan salam jawa yang populer namun agak aneh sehingga mengundang senyum bahkan gelak tawa pendengar (aku yang sedang bermalas-malasan tidur siang pun dipaksa nyengir saat kata tersebut nyelonong masuk lewat jendela kamarku). Kata tersebut adalah 'Salamalekum salam,...'