Thursday, December 22, 2011

Obat Tidur Dosis Super

Saat ini aku susah bergerak, bahkan untuk batuk pun susah karena perut terasa kram. Bukan karena terkena penyakit tertentu, melainkan karena obat tertentu.

Tiga hari ini, tenggorokan terasa panas, bukan seperti batuk pilek biasa. Setelah periksa ke bidan desa, ternyata tenggorokanku ada semacam sariawan!!! Difteri, hm, sudah hampir dua tahun tidak mengalami lagi, bukannya ingin sakit sih, cuma gak bisa lupa sakit yang dua tahun lalu, suaraku sampe berubah jadi pecah kayak robot. Kalo bisa diatur agar suaranya bisa suara prime-tertz-quin sih tidak masalah, :(



"Suntik mas?" (waduh...)
"Hehehe..."
"Ok"

Bidan ambil alat suntik dan mencobloskan jarumnya ke ampul obat putih bening, seperempat dari isi keseluruhan alat suntik. Setidaknya yang disuntikkan tidak banyak, pikirku. Eh, tapi kok obatnya aneh?

"Bu, kok obatnya bening. Kayaknya dulu warnanya merah deh"
"Memang, lha ini yang merah" bu bidan mencobloskan jarum lagi ke ampul merah. Sekarang sudah setengah alat suntik terisi cairan, deg...deg..deg.
"Pernah alergi obat Mas?"Aku cuma bisa geleng, mulutku gak bisa kupercaya untuk mengeluarkan sepatah kata tanpa bergetar.

"Kalo gitu tak tambahkan ini" Sekarang alat suntik sudah berisi PENUH cairan obat yang akan disuntikkan ke tubuhKU..., duh gusti...

"AAAOOOUUUWWW..."

"Walah, sudah bolak balik ke sini berpuluh tahun kok ya masih sama gayanya"

"AAUUWWW..."

Semenit kemudian barulah dicabut. Aku cemberut.

Beberapa menit kemudian
"Nah, yang ini diminum kalo diare, 2 buah pil, jika dan hanya jika diare lho. Kalo nggak diare nggak usah di minum. Yang putih kecil ini untuk pilek tiga kali sehari , tapi minumnya besok, soalnya di suntikkan tadi sudah ada. Nah kalo yang untuk pusing bisa disimpan untuk suatu saat kalo pusing lagi, tiga kali sehari, kalo sudah tidak pusing hentikan minumnya, yang ini antibiotik....blablabla..."

Begitulah aku diberi obat 11 macam pil yang fungsinya macam-macam, dari diare, pusing, pilek, demam, sariawan ditenggorokan sampai jamur di usus. Hm, setidaknya aku masih tahan tidak pingsan mendengarnya, kalau pil sih, kecil... Suntikan? No Way...

Malamnya langsung minum obat, tidak ada masalah

Dini hari. Terbangun, keringat dingin yang melimpah tanda sembuh, mau merubah posisi tidur, eh loh? Kok badanku kaku? Coba menengokkan kepala, tidak bisa. Kupaksa bangun dengan cara normal, YA AMPUN, perutku rasanya seperti baru sit-up tujuhratus tujuhpuluh tujuh kali, njarem (ngilu). Pasrah, tidur lagi dengan posisi yang sama, obat tidurnya masih berpengaruh kuat.

Subuh terbangun lagi, mau menggeser kaki pun rasanya seperti habis lari marathon tanpa pemanasan. Kupaksa bangun sambil teriak-teriak, rasanya seluruh tubuhku habis digebuki orang (hm, mungkin rasanya gitu, gak pernah digebuki orang), tetap kupaksa bangun, ingin pipis.

Jalanku seperti robot, tangan kanan membantu mengangkat kaki kanan, yang kiri juga sama. Dekat kamar mandi ketemu Anggun

"Mas, kenapa"
"Gak tahu, kaku semua. Apa memang obatnya berpengaruh seperti ini?"
"Harusnya enggak, mana obatnya, tak lihatnya" Anggun juga bidan
"(nggremeng) hm, ni obat pilek ada CTM-nya, antibiotiknya ok, demakolin, loh, ini kan ada CTM-nya juga? wah ni harus diminum salah satu tok, nah kalo yang ini gak papa terus yang...."

....

"Wah, ini sampeyan dapat dua jenis pil yang ada obat penenangnya, efeknya sampeyan seperti dibius, efek sampingnya bisa kayak saya dulu, leher kaku, eh kalo sampeyan sekujur tubuh kaku, hehehe..."

Duh, dan beginilah, untuk batuk saja malah lebih susah dari sebelum diobati. Mungkin maksudnya memberi efek jera agar tidak bisa batuk, tapi... Setidaknya demam dan pilek sudah hilang, walau masih terbujur kaku.