Wednesday, December 7, 2011

Lagu anak

Iku mono ra sepiro, ibarat aku duwe konco
Lagak e koyok jutawan ngalor ngidul gowo koran,

tibakno gendeng anyaran ditabok setan


Iku mono ra sepiro, ibarat aku duwe tonggo
Arek e ayu temenan jarang metu nang embongan
Tibakno meteng rong ulan merek ojek an

(

Itu belum seberapa, ibarat saya punya teman
Lagaknya seperti jutawan keutara selatan bawa koran,
ternyata barusan gila ditabok setan

Itu belum seberapa, ibarat saya punya tetangga
Anaknya cantik betulan jarang keluar di jalanan
Ternyata hamil dua bulan merek ojek
)

Itu adalah salah satu lirik lagu dari VCD LAGU ANAK-ANAK. Dalam VCD tersebut memang benar penyanyinya adalah anak-anak, namun lagu-lagunya yang bergenre jaranan-koplo-campursari itu adalah lagu-lagu dewasa. Mungkin jika lagu dewasa semacam KoesPlus atau Sheila On 7 dibawakan anak-anak agak tergolang wajar, namun bacalah lirik lagu diatas, lagu tersebut adalah lagu vulgar yang aka aneh sekali jika dibawakan anak-anak.
Mungkin ada yang beralasan bahwa menyanyikan lagu-lagu itu untuk mengajari anak untuk cinta budaya daerah, HEY TUNGGU DULU. Budaya daerah yang mana? Jaranan?

Jika benar ingin melestarikan kebudayaan daerah semacam jaranan, kenapa tidak pake lagu anak-anak saja? Tidak perlu mengusung lagu-lagu dewasa untuk dinyanyikan anak-anak. Lagu-lagu jaranan banyak sekali, semacam 'ing wayah esuk jagone kluruk', 'lumbung desa', 'sawo glethak' lebih netral untuk dibawakan segala umur.

Lagu dolanan anak-anak juga banyak semacam 'Padang bulan', 'Cublek Suweng' (yang bahkan dibawakan oleh Slank), 'Dondong apa salak', 'Sluku Bathok'. Itu baru namanya melestarikan budaya, bukan membunuh budaya.