Monday, December 5, 2011

Dari Rock ke Asolole

Eh, itu kan...
Wah, benar memang dia.
Saat itu aku menghadiri undangan nikahannya... nikahannya... hm..., anu, eh, sebenarnya gak begitu kenal, tapi sebagai 'orang desa' maka aku hadir juga. Nah seperti kebanyakan acara nikahan di desa, maka para undangan pun disuguhi live musik jenis campursari-dangdut-koplo-asolole (duh...).

Biasanya aku cuek dengan acara-acara begituan, namun saat itu aku mendadak jadi sangat tertarik dengan musik yang 'hadeww...' itu. Sudah dapat diduga, aku tertarik dengan penyanyinya, hehehe. Bukan karena keseksiannya, baik badan maupun suaranya, namun penyanyi di grup tersebut adalah teman nglayapku waktu SMU, wow...
Reaksi pertama adalah terkejut dan senang. Jadi ingat saat-saat bengal di SMU; dia adik kelas, dulu sering nglayap rame-rame sama teman satu band ke danau sepulang sekolah dengan tetap pake seragam SMU.
Dia memang bukan vokalis band-ku namun dia sering tampil sebagai semacam vokalis tamu di Babon Band (nama band-ku). Ceria, semangat.
Reaksi kedua adalah terrkejut (eh sama) dan prihatin. Beberapa tahun setelah lulus SMU memang dia kemudian berprofesi sebagai penyanyi dangdut. Pada beberapa kesempatan, sering kudengar lantunan lagu-lagunya saat ada tetangga punya hajat. Dia menjadi semacam primadona lokal di daerahku. Bangga juga melihat teman bengalku 'jadi orang', semangat dan ceria.
Namun malam itu, tak kulihat bara semangat di matanya. Lagu-lagu yang dibawakannya sudah kehilangan nyawa. Dia, meminjam kata Bang Zaitun di Laskar Pelangi Maryamah Karpov, sudah menjadi JukeBox, sebuah mp3 player.
Seperti banyak dari kita sudah tahu. Lagu-lagu dangdut yang laris manis saat ini adalah lagu-lagu lama yang diaransemen ulang menjadi dangdut-koplo-asolole dan menjadi lagu standart di acara-acara pernikahan atau sunatan. Tentu saja music live organ tunggal/electone di acara-acara tersebut juga menampilkan musik dangdut macam ini atas permintaan pendengar. Dan temanku juga mau tidak mau harus membawakan lagu-lagu itu.
Saat ini acara live musik dangdut di acara-acara pernikahan sudah menjadi semacam tayub modern. Ada yang tahu Tayub? Tayub adalah pertunjukan dimana beberapa sinden membawakan lagu-lagu campursari dengan menari di panggung sambil ditemani penari dari para undangan secara bergiliran dari meja satu hingga meja kesekian. Nah, live dangdut sekarang juga semacam itu.
Masalah muncul dari pemaksaan model tayub saat live dangdut di acara-acara pernikahan atau sunatan. Pada tayub, tarian para undangan biasanya serasi dengan tarian para sinden, karena lagu yang dibawakan memang menuntut tarian yang model seperti itu. Disamping itu, pada tayub, para sinden juga memang 'didesain' untuk menari seirama dengan lagu dan undangan.
Pada live-dangdut-koplo-asolole, para penari dari, misal, meja 3, akan naik ke panggung, minta lagu yang 'itu' tidak peduli walau lagu itu telah dibawakan tiga kali sebelumnya, dan joget dengan gaya masing-masing; bukan pemandangan yang menarik. Penyanyi juga terpaksa mati gaya, selain menyanyi dia juga harus 'melayani' para undangan berjoget di panggung yang gayanya 'duh...'.
Malam itu kulihat teman bengalku, yang dulu terkenal karena keseksian goyangan dan suaranya, menyanyi seperti melamun, penonton tidak lagi dapat melihat goyang terkenalnya karena tertutup para penari setengah mabuk dari meja nomor 3.
Saat aku pulang kusempatkan mendekat ke panggung menunggu pandangannya terarah padaku. Kulambaikan tanganku, dia mengenaliku dan balas melambai dengan antusias, sekilas kulihat keceriaan masa SMU dulu, satu-satunya keceriaan lepas yang dia perlihatkan malam itu, dan saat ku pergi, momen itu pun belalu.
Kasihan.