Monday, November 7, 2011

Takbir

Yeah, takbir selalu dikumandangkan setiap hari raya idul fitri dan hari raya kurban. Berbagai macam cara dilakukan untuk mengagungkan nama Tuhan di malam sebelum hari raya tersebut. Namun apakah kita benar-benar bertakbir?


Di daerah saya tiap malam hari raya diadakan takbir keliling. Waktu saya masih kecil, mobil masih langka, bahkan mobil pick-up pun merupakan barang sangat mewah, takbir keliling dilakukan dengan jalan kaki. Awalnya kami berkumpul di surau saat maghrib dan mnegumandangkan takbir hingga isya. Setelah isya, setelah terkumpul cukup banyak, dimulailah acara takbir keliling. Rute yang dilewati tentu saja jalan desa yang belum berpenerangan listrik. Walaupun sebagai anak kecil kami sering petak umpet malam-malam tanpa penerangan, saat takbir keliling kami menyempatkan diri membawa obor; hanya aksesoris, toh obor yang kami buat tidak dapat menerangi jalan.

Tentu saja dengan berjalan kaki rute keliling desa sudah lebih dari cukup; mengumandangkan takbir hingga tenggorokan kering, namun puas, warga yang tak ikut takbir meski rutenya kami lewati juga biasanya antusias "melihat", hehehe.

Kini takbir keliling juga tetap dilakukan, tentu saja dengan berbagai kemudahan. Jalan-jalan sudah memiliki penerangan yang memadai, kaki juga tidak begitu pegal karena naik kendaraan bermotor, tenggorokan pun juga tetap nyaman karena yang bertakbir adalah mp3 player dengan sound output enam buah cabinet speaker besar yang diangkut truk dengan listrik dari genset beribu-watt.

Hm, namun apakah kita ikut mengumandangkan takbir? Yang saya lihat pada "takbir keliling" saat ini adalah orang-orang yang berkonvoi berbaju muslim naik kendaraan sambil mengklakson atau membunyikan sirine, ucapan "Allahu Akbar" hanya keluar dari sound system. Bisa dikatakan, sound systemlah yang mengagungkan nama Tuhan, sound system juga mungkin yang dapat pahala, :).

- Posted using BlogPress from my iPad