Thursday, November 3, 2011

Prejudice

Dulu, saat sering nge-band, sering sehabis manggung atau latihan aku nongkrong di tempat ngopi. Tempatnya tidak tentu, terkadang di perempatan ITN (yang baru buka pukul 10 malam itu), atau di trotoar jalan Veteran sebelum ada MaToS, di Keong (hm, masih ada nggak ya?) atau yang lain dengan prinsip "pokoknya gak pulang dulu", toh sebagian temen band nginep di Markas di .. di .., hm.., baru nyadar ternyata aku gak tahu alamat resminya markas, hehehe.


Alamat markas bandku, mbA Band, kira kira begini: Di jalan bendungan Sutami ada gang yang ada warung Mak Nia, nah rumah pertama kanan jalan di gang itu markas bandku yang terakhir, ada pagar tembok rendah yang bisa buat duduk-duduk sambil gitaran (aslinya sih lihat cewek lewat, gitarannya gak penting), latihannya sendiri untuk format akustik ada di lantai dua dekat jemuran, saat-saat terakhir band-ku ada di situ malah ada dua kelinci yang dibiarkan bebas (beserta kotorannya, :) ) dan sampai memakan print-out skripsinya Supri, gitaris band-ku, :). Sekarang rumah itu sudah tidak dikontrakkan lagi, katanya dipakai sendiri oleh yang punya, bahkan denger-denger..., ah bukan urusanku.

Di markas itu aku sama Supri pernah membuat rekor tak resmi, gitaran ngalor ngidul dari jam 10 pagi hingga jam 10 malam. Penyebabnya sepele; dikira hari itu latihan band format akustik, ternyata yang datang cuma dua orang tok, aku dan Supri, ya sudah, hajar saja, strumming all day long...

Nah, balik ke ngopi, biasanya kalo rame-rame satu band, tidak pernah ada masalah. Beda lagi kalo ngopi cuma bertiga, pasti pesanan datangnya lama dan pasti ada satu pelayan yang mondar-mandir kesana-kesini sambil bawa pesanan entah untuk siapa yang gak nyampai-nyampai.

Ini bukan untuk menyindir atau menyalahkan atau mengklaim bahwa kejadian ini selalu terjadi. Kebanyakan pelayan mengantarkan pesanan makanan atau minuman berdasarkan jumlah orang yang ada di meja itu. Tidak heran tentu saja, dan normal untuk berpikir demikian, tiga nescafe untuk tiga orang di pojok sono, ni dua jeruk pasti pesanan dua mbak cakep dekat jendela itu. Toh dengan cara begitu tidak perlu tanya satu-satu dari meja ke meja. Anehnya walaupun mejanya sudah bernomor, banyak yang masih tetap menggunakan pola pikir seperti itu dan sayalah yang sering jadi korban.

Tentu saja saya sering jadi korban karena mungkin salah saya sendiri. Kesalahannya adalah: rakus. Jadi kami sering cekikikan kalo ada pelayan yang akhirnya datang dengan tersipu (atau mungkin geram tapi gak mungkin diperlihatkan) sambil berkata: "waduh, maaf mas, lha di meja nomor 7 ini orangnya cuma ticga tapi kok di daftar pesanannya ada 4 minuman ya".

Weleh, sudah ada nomornya gitu lho mas, mbok ya tanya dari tadi tuk konfirmasi gitu. Ini juga masalah kita kebanyakan, malu bertanya dan berprasangka. Prasangka, walaupunitu prasangka baik (semacam "hm, mas itu gak mungkin rakus sampai pesan es josua dua gelas besar plus cappucino"), kadang membuat sesuatu berjalan amburadul, dan dalam kondisiku saat itu, membuat pesananku gak datang-datang, haus...