Monday, November 7, 2011

Herbal

Obat herbal

Pernahkah anda perhatikan iklan sejenis obat herbal di tv ataupun yang ditawarkan oleh sales atau tetangga yang tiba-tiba jadi sales dadakan setelah mendengarkan presentasi dari tetangga yang satunya lagi yang juga sales dadakan setelah mendengarkan dari tetangga yang satunya lagi yang.....dst.



Yang sering saya perhatikan adalah: sales obat herbal kurang "menjual". Mereka percaya diri, meyakinkan, namun kurang menjual. Kalo dipikir-pikir, mereka telah menjalankan prinsip-prinsip penjualan dengan baik, namun entah kenapa seperti ada yang kurang pada presentasi-presentasi mereka. Atau mungkin terlalu berlebihan.

Obat-obat yang ditawarkan menurut saya sederhana saja namun dideskripsikan secara rumit. Ada penjelasan tentang kandungan zat, cara mengekstrak zat dari sumbernya, proses kimia pembuatan obat tersebut (hm, herbal? Proses kimia?). Kemudian ada penjelasan (kadang presentasi dalam bentuk power point) dari dokter dan ilmuwan yang berada di belakang pembuatan obat tersebut. Saya rasa saya tidak tertarik dengan deskripsi yang membuat mengantuk macam itu.

Obat yang ditawarkan biasanya adalah obat "penyembuh segala macam penyakit". Saya biasanya berkomentar "wow" sambil pasang wajah kagum, tentu saja sebenarnya tidak sama sekali. Terlalu dipaksakan jika ada sebuah obat seperti itu. Saya selalu menahan diri untuk tidak bertanya (setelah penjelasan tentang khasiat untuk kanker, tumor lumpuh) "bisa menyembuhkan pilek nggak? Untuk menyembuhkan diare gimana dosisnya?"

Kesaksian atau testimoni sangat terlihat dipaksakan. Di tv jelas bisa kita lihat kalo mereka membaca atau menghafal dialog atau didikte. Di brosur akan anda dapati misal seseorang pengidap kanker stadium sangat lanjut sembuh dalam waktu sebulan. Sang sales sendiri biasanya akan memberi kesaksian tetangganya yang sakit super parah hingga dokter angkat tangan ternyata bisa sembuh; juga menyebut beberapa nama orang terkenal yang mengkonsumsinya. Masalahnya adalah, obat tersebut ditawarkan kepada saya yang sehat, hm..., haloo...? Trus mau saya apakan obat itu?

(saya pernah didatangi sepasang suami istri yang presentasi tentang "obat akhir zaman penyembuh segala penyakit" sebesar separuh jari kelingking seharga Rp 100.000. Tentu saja sebagai tuan rumah yang baik mereka disuguhi minuman yang ternyata ditolak oleh istrinya ng berbadan gemuk secara halus. Usut punya usut, lewat pertaynan-pertanyaan pancingan saya, sang istri kelepasan bicara kalo terkena kencing manis, :) ).

Ini bukan sebuah penghujatan atau sejenis itu, hanya semacam keluhan, jadi saya juga memikirkan apa yang seharusnya dilakukan "oknum" sales obat-obat herbal agar tidak dianggap sebgai pembual yang meresahkan (tentu sebagian besar sales yang saya kenal tidak seperti itu).

Lihat dulu latar belakang customer, saya pernah ditawari obat dengan membawa ayat-ayat Qur'an tentang lebah yang menghasilkan madu namun obat yang dijual ke saya bukan madu, weleh. Juga mengklaim bahwa "obat segala penyakit" yang ditawarkan saya itu adalah "obat akhir zaman" yang ada di Qur'an (saya tidak ditunjukkan ayatnya). Bahkan ditunjukkan juga kutipan dari Injil dan Weda (hanya nama kitabnya tanpa ayat). Maksudnya mungkin bagus, mungkin dengan beli obat tersebut bisa mempertebal keimanan, :), mungkin lho ya.

Masalahnya, saya kurang begitu tertarik dengan hal-hal pamer keimanan atau menumpuk pahala atau "mata-pahala-an" (semacam mata duitan) macam itu, jadi kutipan ayat-ayat suci tidak menjadikan saya lantas tertarik membeli. Yang lucu, dengan menyebut kutipan ayat suci agama lain, secara tidak disadari akan menimbulkan persepsi "plin-plan" atau terlalu "toleran" yang justru tidak disukai oleh golongan tertentu.

Tidak perlu mengejar atau memaksa untuk membeli produk walaupun client memang benar-benar memerlukannya karena membuat client merasa sangat terpojok; itu bukan perasaan yang menyenangkan. Anda pasti tidak akan diterima lagi saat membuat janji untuk pertemuan berikutnya.

Tak perlu meminta nomor telepon atau e-mail client kecuali client secara sukarela memberikannya. Client yang diminta nomor telepon atau e-mail akan merasa diikat atau dibayang-bayangi terus oleh anda. Sudah pasti permintaan alamat e-mail disebabkan karena anda akan mengirimi berbagai iklan produk atau presentasi dan client tahu pasti itu; client merasa dicekoki bermacam-macam produk yang menurutnya tidak menarik. Akhirnya saat client benar-benar membutuhkan sebuah produk, dia sudah tidak berminat lagi pada email-email anda yang dia anggap sama saja dengan email-email anda terdahulu yang tidak menarik.

Tak perlu menceritakan terlalu banyak fakta tentang khasiat produk yang anda tawarkan; semacam si anu yang kena tumor super ganas sembuh dalam waktu seminggu. Meskipun fakta tersebut benar adanya, terlalu banyak cerita sukses akan menyebabkan client merasa khasiat produk terlalu berlebih-lebihan sehingga malah tidak akan percaya sama sekali. Jika client sakit sesak nafas, jangan cerita bahwa obat anda bisa menyembuhkan kanker; client membutuhkan obat asma, bukan obat kanker.

Yang paling penting, jangan anggap client seperti anak-anak yang tidak tahu apa-apa dan harus diberi tahu apa yang harus mereka lakukan. Jangan memonopoli pembicaraan, usahakan anda dan client memiliki porsi waktu bicara yang hampir imbang sehingga anda tidak berkesan menggurui (banyak yang tidak suka, walaupun hanya dalam hati).


- Posted using BlogPress from my iPad